MAHASISWA DALAM PERJUANGAN PEMBEBASAN NASIONAL

Pendidikan adalah senjata yang paling kuat untuk mengubah dunia

Pendidikan merupakan sebuah inti dari kemajuan tenaga produktif nasional. Gerak maju bangsa Indonesia untuk berkembang menjadi sebuah bangsa modern, mandiri dan bermartabat terhalang oleh masih berkuasanya susunan ekonomi Imperialisme dalam ekonomi didalam negeri. Imperialisme telah menguasai sumber daya dan seluruh kekayaan alam nasional tanpa menyisakan sedikitpun, sehingga sektor pendidikan dalam soal  anggaran tidak pernah diperhatikan. Imperialisme pula yang mengharuskan sistem pendidikan nasional dilempar kepada mekanisme pasar guna mengakumulasi profit mereka. Meskipun tidak menafikan kebutuhan mengangkat isu-isu sektoral guna membangkitkan massa luas mahasiswa, akan tetapi harus ditegaskan bahwa poros perjuangan pokok mahasiswa sekarang ini adalah anti-imperialisme atau pembebasan nasional, harus dijelaskan kepada massa luas mahasiswa, bahwa tidak ada pendidikan yang bisa diakses luas oleh seluruh rakyat, tidak ada mutu dan kualitas pendidikan, tidak ada pendidikan kerakyatan jikalau sektor pendidikan masih di serahkan pada mekanisme pasar. Melihat situasi sekarang, pendidikan di Indonesia sudah jauh melenceng dari cita-cita kemerdekaan, bahwa tujuan pendidikan itu adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun sampai hari ternyata tujuan itu tidak pernah dirasakan secara merata oleh semua elemen lapisan massa rakyat. Kita bisa melihat bagaimana bobroknya system pendidikan hari ini dengan terbitnya UU SISDIKNAS yang merupakan bentuk perpanjangan tangan atau sebuah produk yang di gagas oleh Kapitalisme untuk tetap merajalela di bangsa Indonesia. Dengan UU tersebut Negara secara langsung telah melepaskan tanggung jawabnya dalam soal pendidikan. Terlebih lagi dengan diberlakukannya system UKT (Uang Kuliah Tunggal) adalah untuk membantu Mahasiswa menengah ke bawah dengan subsidi silang yang di bebankan kepada orang tua murid. Subsidi silang yang di maksud oleh pemerintah adalah pembebanan yang lebih besar yang tergolong Mahasiswa menengah ke atas dan yang menengah ke bawah akan mendapatkan subsidi untuk biaya pendidikannya. Secara logika memang masuk akal tapi kalau diteliti lagi lebih mendalam siapa yang bertanggung jawab terhadap pendidikan maka logika tersebut tidak bisa di pakai, hal ini terlihat jelas bahwa pemerintah telah melepaskan tanggung jawabnya yang hakiki untuk menyelenggarakan pendidikan untuk seluruh lapisan rakyat tanpa terkecuali. Kurikulum didesain sedemikian rupa untuk kepentingan bisnis, seperti memperpendek waktu kuliah yang dengan biaya pendidikan yang sangat tinggi sehingga memaksa peserta didik untuk merasa terasing dari dunia luar, diluar universitasnya, sehingga mahasiswa terlena dan lupa dengan kondisi sosial yang ada disekitarnya.

Bagaimana  Mahasiswa melihat masalah nasional??

            Belajar dari sejarah, gerakan Mahasiswa dalam praktiknya bukanlah hal yang ahistoris. Gerakan ini telah melewati spektrum gerakan waktu yang sangat lama dalam letak geografis yang luas. Dalam hal ini gerakan Mahasiswa bukanlah sesuatu yang terjadi dengan sendirinya. Justru gerakan Mahasiswa Indonesia merupakan bagian kesejarahan gerakan Mahasiswa secara luas di dunia. Dalam sejarah secara umum gerakan Mahasiswa telah melegenda dari masa kemasa. Dari berbagai momentum peristiwa tahun 1966,1974,1978 dan 1998 dan diakui sebagai tonggak sejarah gerakan Mahasiswa di Indonesia. Namun sebenarnya yang perlu dilakukan oleh gerakan Mahasiswa saat ini bukanlah mengagung-agungkan gerakan mahasiswa pada masa itu dengan menyebutnya secara heroik. Mengapa demikian, karena perilaku itu justru menjatuhkan gerakan mahasiswa pada romantisme massa lalu dan akhirnya terjebak dalam mitos mitos bahwa Mahasiswa sebagai satu-satunya motor gerakan perubahan sosial tanpa memperhitungkan kekuatan gerakan massa rakyat. Ketika kita memperhatikan ada beberapa pembelajaran dari gerakan Mahasiswa dari tahun ke tahun. Yang pertama adalah pembacaan realitas atas kondisi dimana dari beberapa kasus setiap gerakan mahasiswa umumnya berangkat dari permasalahan yang ada disekitar mereka, hal itu kemudian diabstrasikan ke arah yang lebih mendasar untuk mencari akar masalahnya. Dengan perspektif lain bahwa gerakan mahasiswa selalu mulai pada dari realitas sekitarnya dari sesuatu yang riil kemudian terjewantahkan dalam pokok masalah. Bila mengikuti logika ini maka gerakan mahasiswa diatas melihat permasalahan dengan kacamata realisme yang kritis. Ketika berangkat dari realitas yang merupakan kunci dari permasalahan, lantas kemudian timbul pertanyaan hal seperti apa yang disebut sebagai realitas.? Atau apakah yang disebut dengan realisme.? Realisme adalah suatu pemahaman melihat keadaan atau kenyataan menjadi sesuatu yang ada diluar diri pelaku walau pelaku itu ada atau tidak. Hal ini berbanding terbalik dengan idealisme yang melihat keadaan sebagai sesuatu yang ada karena ide dalam kepala mengatakan hal tersebut ada atau tidak. Artinya kenyataan di tentukan oleh pikiran atau anggapan seseorang dan apakah gerakan mahasiswa itu memandang bahwa suatu masalah itu real secara nyata diluar dirinya.

Siapa musuh utama Bangsa Indonesia dan bagaimana Mahasiswa Melawannya??

          Jika dulu dalam proses merebut kemerdekaan bangsa Indonesia system penjajahan nya secara colonial maka dalam situasi sekarang telah berganti rupa, musuh Bangsa Indonesia sudah tidak bisa dilihat secara kasat mata, akan tetapi musuh itu telah berganti rupa. Di zaman modernisasi sekarang Imperialisme tetap melanjutkan jajahannya lewat ekonomi, politik maupun kebudayaan. Jika mahasiswa telah mengetahui siapa imperialisme itu maka secara tidak langsung akan menimbulkan kesatuan gerak dalam proses perjuangan pembebasan nasional. Rezim yang berkuasa sekarang, ataupun rezim-rezim sesudahnya jikalau tetap menjadi “alas kaki” modal asing, merupakan musuh rakyat Indonesia di dalam negeri. Perjuangan anti-imperialisme harus menyingkirkan rezim-rezim “pesanan asing” di tahap pertama, kemudian dilanjutkan dengan memblokade semua kepentingan asing di dalam negeri. Sehingga, perjuangan anti-imperialisme haruslah mewujudkan sebuah pemerintahan yang berdasarkan demokrasi kerakyatan, yang menyingkirkan semua praktik imperialisme baik di lapangan ekonomi, politik, ataupun budaya. Perjuangan anti Imperialisme akan bermuara pada “kemenangan”, jika gerakan mahasiswa bisa menerapkan politik front persatuan yang tepat. Politik persatuan disini adalah prinsip persatuan kekuatan massa dan dukungan massa rakyat terhadap tahapan perjuangan yang berada didepan mata. Imperialisme yang berwatak monopoli telah menempatkan negara-negara bangsa yang terbelakang sebagai sumber penghisapan dan sasaran eksploitasi. Dalam derajat tertentu, hal tersebut memicu lahirnya gerakan pembebasan nasional, yang kadang diikuti bahkan dipimpin dengan bersemangat oleh borjuasi nasional yang tersingkirkan pula oleh Imperialisme.  borjuis membutuhkan bangsa sebagai benteng membangun dan menata modalnya dalam tahap awal. Tidak akan ada kesempatan membangun ekonomi nasional jikalau susunan ekonomi Imperialis masih mendominasi. Harus ada upaya untuk merebut kembali semua sumber daya alam kita yang sekarang dikuasai oleh pihak asing.  Didalam menjalankan persatuan, prinsip utamanya adalah memperlebar kawan dan mengisolasi musuh dengan tidak melepaskan independensi politik kita yaitu politik perjuangan klas. Ketika berpraktek, tidak jarang kita menemukan politik persatuan yang kaku, reaksioner dan merugikan perjuangan secara umum. Banyak yang menyerukan persatuan dalam seruan-seruan politik, tetapi menerapkan persyaratan (kesepakatan) yang terlampau ketat sehingga hasilnya persatuan minoritas kecil (sekte). Ketika  sudah mengetahui siapa musuh yang harus dilawan maka dengan jalan persatuan Nasional lah musuh itu bisa tersingkir dari tanah air Indonesia sehingga bangsa Indonesia terlepas dari dominasi system Imperial.

Kawan Firman (Mantan Ketua Komisariat UMI Makassar) Saat Ini Sedang Melanjutkan Study Di Fakultas Teknologi Industri, Jurusan Teknik Industri, Universitas Muslim Indonesia Makassar 

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


*