Masih Adanya fobia Sastra Kiri bagi Mahasiswa

Secara singkat, kondisi objektif penelitian mahasiswa yang berperspektif kritik sastra marxis menunjukkan  kecenderungan kuat yakni, Jumlah penelitian yang mengaplikasikan rumpun teori sastra marxis amat,  sedikitnya atau mungkin malah nyaris langka – penelitian mahasiswa yang mengangkat kritik sastra marxis selama Orde Baru berkuasa (1966 – 1998), bahkan hingga sekarang ketika fobia ideologi yang sudah semestinya runtuh. Ada beberapa kemungkinan dugaan mengapa hal itu terjadi.

Pertama, masih menguatnya fobia mahasiswa dan dosen terhadap orde baru tentang pelarangan membaca buku-buku kiri. Sekadar membaca apalagi mengaplikasikan teori marxisme dalam penelitian saja sudah seperti dikejar ibu kos menagih uang bulanan. Padahal, jangankan hanya membaca, sudah jelas-jelas, menerapkan perspektif marxis dalam penelitian pun sebenarnya tidak dapat langsung diidentikkan dengan mempercayai, menganut, atau pun membenarkan marxisme (Beidler, 1999)

Kedua, Minimnya dosen yang menerapkan kritik sastra marxis, yang akan dijadikan mahasiswa sebagai bahan acuanya ketika ingin mengaplikasikan teori sastra marxis, termasuk larangan dosen untuk mahasiswa yang menulis karya ilmiah dengan kajian pustaka dari teori sastra marxism, kemungkinan tersebut terjadi karena akhir – akhir ini terjadi pemusnahan dan swiping buku-buku kiri, maka phobia itu masih ada, mskipun era terbuka saat ini tidak perlu di respon.

ketiga, dalam mata kuliah kritik sastra yang diberikan dosen sering melewatkan pembahasan kritik sastra marxis meskipun ada porsinya itu pun hanya “numpang lewat”. Selebihnya diperingatkan atasan, dihambat kariernya, dipecat, atau di tuduh radikal, apalagi isu-isu tolak radikalisme bergentayangan di kampus-kampus.

Akibatnya, minimnya pengetahuan mahasiswa bahkan cenderung memutus mata rantai keilmuan sastra dalam perspektif kiri, bagaimana sastra sebenarnya harus berdasar pada kenyataan realitas objektif, seperti yang di kemukakan  “semi” Sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objek-nya adalah manusia dan kehidupannya menggunakan bahasa sebagai mediumnya.

 

Mahfud hariadi

DPO EW LMND (Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi) JATIM.

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


*