Mengenang para Pahlawan dengan Melanjutkan Perjuangan untuk Kembali Memenangkan Pancasila

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenang dan menghargai jasa pahlawannya.” (Bung Karno)

          Dalam proses mencapai kemerdekaan, Bangsa Indonesia tidak dengan mudah mendapatkan yang namanya Pembebasan Nasional dibawah dominasi kolonialisme.  Sepanjang perjalanannya ribuan nyawa melayang untuk tetap merelakan jiwa raganya demi kemerdekaan Indonesia.  Hari pahlawan 10 november merupakan peringatan tahunan untuk mengenang dan memperingati pertempuran Surabaya, dimana pasukan-pasukan pro kemerdekaan tidak pernah mundur dan tidak pernah gentar dalam melawan penjajahan kolonialisme.  Pada pertempuran Surabaya ini merupakan pertempuran heroik dan pertempuran revolusi yang paling berat dan merupakan simbol perlawanan bagi tentara Indonesia.

Pada momentum hari pahlawan ini, tentunya bukan dijadikan sebagai hadiah, melainkan untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah merelakan jiwa dan raganya bahkan mengorbankan harta bendanya agar tetap menjaga dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Maka dari itu kita sebagai generasi penerus bangsa tetap melanjutkan perjuangan para pahlawan dengan melawan segala bentuk penindasan yang ada di bumi pertiwi ini. Jika dulu system penjajahan Bangsa atas bangsa dengan jalan Kolonialisme atau penjajahan secara fisik maka situasi sekarang sudah berubah bentuk menjadi penjajahan dengan system Imperialisme dan Neoliberalisme atau penjajahan gaya baru. Dengan system yang telah berubah ini, kini bangsa Indonesia telah kehilangan jati dirinya. Bangsa Indonesia sudah tidak mampu berpijak diatas kaki sendiri justru bangsa Indonesia bergantung dengan bangsa lain. Ini menunjukkan bahwa cita-cita kemerdekaan nasional sebagaimana yang tercantum dalam pancasila dan pembukaan UUD 1945 itu hanya sebagai ilusi belaka dan tidak mampu direalisasikan dengan baik.

Inilah sebenarnya tugas dan tanggung jawab sebagai pemuda yang selalu menjadi pelopor dalam proses jalan Revolusi Indonesia. Karena sejarah telah mencatat dan menggariskan, bahwa sejatinya pemuda itu selalu berada digarda paling depan dalam mengatasi segala persoalan yang ada di Indonesia. Setelah jatuhnya kekuasaan orde lama diruntuhkan dan digantikan dengan kekuasaan orde baru, inilah titik tolak yang menjadikan bangsa Indonesia kembali terjajah secara ekonomi, politik serta kebudayaan. Kita bisa melihat dengan hadirnya UU penanaman modal asing sebagai wujud penjajahan gaya baru. Dengan adanya UU tersebut segala asset Negara dan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki oleh bangsa Indonesia telah dikuasai oleh bangsa lain. Kalau melihat penjajahan pra kemerdekaan sejatinya adalah untuk menguasai kekayaan alam Indonesia untuk kebutuhan Negaranya sendiri. Pada masa reformasi sekarang cita-cita kemerdekaan itu makin jauh dirasakan oleh semua elemen massa rakyat. Pancasila sebagai dasar Negara dan pedoman dalam kehidupan bangsa dan bernegara kini hanya dijadikan sebagai jargon politik agar tetap melegitimasi kekuasaan. Justru dengan jalan pancasila seharusnya bangsa Indonesia bisa merasakan kemerdekaan sejati dimana tidak ada penindasan manusia atas manusia dan bangsa atas bangsa. Sampai saat ini pun bangsa Indonesia sudah tidak merdeka baik itu secara ekonomi, politik dan kebudayaan. Kalau kembali menilik PILPRES 2014 kemarin bahwa yang menjadi kampanye politik rezim Jokowi-JK adalah menjalankan Trisakti Bung Karno, dimana mandiri dalam bidang ekonomi, berdaulat secara politik dan berkepribadian dalam kebudayaan. Namun sampai saat ini kampanye politik tersebut tidak mampu direalisasikan dengan baik.

Para pendiri Republik ini tahu betul betapa jahatnya kolonialisme, kemiskinan, diskriminasi dan penindasan. Mereka semua merasakan betapa sakitnya dicekik oleh kemiskinan, ketimpangan dan ketidakadilan.

Karena itulah para pahlawan dulu mempertaruhkan jiwa dan raganya untuk memproklamirkan kemerdekaan dan mempertahankan kedaulatan bangsa Indonesia. Cita-cita proklamasi itulah yang menjadi imajinasi berbagai macam suku, ras dan agama dalam sebuah bangsa yaitu bangsa Indonesia. Di dalam pembukaan UUD 1945 disebutkan salah satu tujuan pendirian Negara adalah untuk mencapai kesejahteraan umum. Lalu kemudian dalam pancasila tertuangkan prinsip keadilan sosial untuk seluruh rakyat Indonesia.

Namun setelah 72 tahun kemerdekaan itu sampai saat ini cita-cita itu belum mendekat juga. Beberapa kali pergantian kepemimpinan Nasional pun ternyata tidak mampu membawa agar supaya cita-cita itu bisa tercapai. Justru semakin banyak ketimpangan terjadi dimana-mana, baik dari sektor pendidikan, ekonomi, politik maupun kebudayaan. Yang menjadi pangkal perekonomian Bangsa Indonesia tercantum dalam pasal 33 UUD 1945 dimana ayat 3 menyebutkan bahwa bumi, air, udara dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan di gunakan untuk kesejahteraan Rakyat Indonesia. Dalam pasal inilah sebenarnya yang menjadi corong perekonomian Indonesia untuk mencapai kesejahteraan sosial. Namun dalam era Neoliberalisme memaksa Negara melepas perekonomiannya kepada mekanisme pasar. Semua aset Nasional termasuk yang menguasai hajat hidup orang banyak dipaksakan kepada pihak swasta asing melalui skema privatisasi.

Akhirnya negeri yang begitu kaya raya dengan sumber daya alam habis dikuasai oleh korporasi asing. Kekayaan Nasional Negeri makin terkonsentrasi ditangan segelintir orang sementara mayoritas rakyatnya hidup dengan kondisi pas-pasan sebagai buruh dan pekerja informal lainnya. Itulah yang menjadi masalah pokok bangsa Indonesia hari ini, pertama ketimpangan dan kemiskinan yang bertumpuk pada mekanisme pasar dan Kapital, kedua penjajahan Ekonomi dalam wajah barunya yang dikenal sebagai Neoliberalisme.

Dalam penuntutan kehidupan yang layak disampaikan dalam bentuk aksi demonstrasi sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap pemerintah dalam mengambil beberapa bentuk kebijakan. Tuntutan ini dinyatakan dalam bentuk aksi demonstrasi, yang sampai saat ini masih direpresif oleh pihak keamanan sementara dalam penyampaian pendapatnya dimuka umum rakyat dilindungi oleh UU. Inilah yang menunjukkan betapa bobroknya negeri ini. Maka dengan jalan persatuan harus diletakkan dalam kerangka dasar memenangkan pancasila dan Trisakti. Inilah yang menjadi kerangka untuk menuju muara yang sama menuju masyarakat adil makmur sesuai dengan cita-cita kemerdekaan. Maka dengan jalan pancasila kemerdekaan sejati itu bisa dirasakan oleh semua elemen. Oleh sebab itu marilah tetap bergotong royong, bahu-membahu dan saling bekerja sama dalam mengawal berbagai bentuk kebijakan yang tidak bertentangan dengan pancasila dan UUD 1945.

MENANGKAN PANCASILA                                                            HENTIKAN IMPERIALISME

Kawan Firman (Mantan Ketua Komisariat UMI Makassar) Saat Ini Sedang Melanjutkan Study Di Fakultas Teknologi Industri, Jurusan Teknik Industri, Universitas Muslim Indonesia Makassar 

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


*