Pembungkaman Suara Mahasiswa di “RUMAHNYA” Sendiri

Sang Mahasiswa yang dimahakan oleh kaum marhaen kini turut bingung dipersimpangan kiri jalan. Betapa tidak, pembungkaman suara yang otomatis menghentikan pergerakan mahasiswa dalam mengawal birokrasi dan penegakan hukum terus berkelanjutan diberbagai daerah hingga ke titik paling ujung Indonesia.

Salah satu Civitas Akademika tertua di Aceh akhir-akhir ini tertangkap kamera secara terang-terangan melakukan pembungkaman pergerakan mahasiswanya dengan meletakkan spanduk besar yang diletakkan berdekatan dengan logo Universitas, bertuliskan “SELAMAT DATANG GENERASI EMAS. TUGAS MAHASISWA ITU KULIAH. KRITIS ITU HARAM. LULUS CEPAT LALU KERJA. #SAVEMAHASISWA”.

Ini hanya tumpahan opini saya terkait dengan demokrasi yang secara terus menerus mengalami pengikisan didalam negara yang “katanya” menganut sistem demokrasi untuk kebebasan berpendapat, beragama dan lain – lain.

Lantas bagaimana dengan implementasi “TRI DARMA PERGURUAN TINGGI”? Apakah sekedar simbolik formal? Seperti pancasila yang nilai-nilainya belum direalisasikan? Jika memang tugas mahasiswa hanya kuliah, kenapa tidak dibuat saja EKA DARMA PERGURUAN TINGGI. Mahasiswa memang orang akademisi, tapi termaktub dalam tri darma tidak lepas dari pengabdian kepada masyarakat toh?. Kemudian, persoalan tentang kritis itu haram.

Tentunya sebagai akademisi yang beradab dan santun kita pasti paham, bahwasanya bagaimana kritik yang sesuai dengan kadarnya dan ada fakta yang bisa dipertanggung jawabkan artinya boleh kritis tapi realistis toh, katanya demokrasi, atau berubah jadi democrazy? Ketika ada yang salah, ya harus dibenarkan, jika mahasiswa tidak pantas menyuarakan kebenaran, siapa lagi yang pantas menyuarakan? Demokrasi itu kan media penyeimbang birokrasi, jika dalam birokrasi kampus saja mahasiswa dilarang mengawal dan memperbaiki, birokrasi kampus akan terus menerus semena mena terhadap warga kampusnya alhasil para birokrat kampus lah yang menguasai kampus dan menginterfensi mahasiswanya agar selalu tunduk dari tatapan mata birokrat.

Kritis itu haram? Lalu bagaimana dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme, apakah sudah dihalalkan? Tanyakan pada rumput yang bergoyang. Masuk ke point “lulus cepat lalu kerja”, saya tertawa nyinyir ketika kalimat ini terucap di mulut, dizaman neoliberal dan penuh dengan antek antek imperialis dengan mudahnya pribumi mendapatkan pekerjaan? Kata siapa? Mbahmu.

Kalau di zaman seperti ini mudah dapat pekerjaan, tentu tidak akan banyak “PENGANGGURAN BERGELAR SARJANA”, bagaimana pribumi mau dapat pekerjaan layak? Wong sektor hasil bumi dikuasain pihak asing semua. Pribumi cuma dikasih pekerjaan buruh, 8 jam bekerja setengah jam digaji.

Kesimpulannya, alasan dan sebab akibat makin hari makin banyak mahasiswa ya PASIF seolah tidak peduli dengan organisasi baik internal maupun eksternal, tidak mau mengeluarkan argumen, hanya terfokus kuliah lalu pulang mengejar nilai akademik yang tinggi, tidak mau memperjuangkan haknya sebagai mahasiswa dan rakyat sekelas tani dan buruh, karena mahasiswa diharamkan menyuarakan kebenaran dan dibatasi pergerakannya di kampusnya sendiri.

Kuantitas tidak berbanding lurus dengan power yang seharusnya bisa dimunculkan oleh kaum intelek ini. Jika kemudian muncul gebrakan segelintir mahasiswa yang telah sadar bahwa mereka ditindas secara halus, segelintir mahasiswa tersebut akan dikenakan sanksi akademik dari tingkat kecil sampai yang besar, diculik, disembunyikan, atau bahkan bisa jadi di musnahkan.

Dari sinilah terus menerus dari civitas akademika tertinggi disektor pendidikan terus melahirkan generasi yang bermental buruh yang hanya menuruti kebijakan yang keluar walaupun itu menginterfensi mereka. Lantas bagaimana nanti kelanjutannya setelah menyelesaikan pendidikan dan terjun ke dunia masyarakat? Wallahualam.

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


*