Pemuda Dalam Perjuangan Kemerdekaan

Sejarah sebuah bangsa adalah sejrahnya kaum muda, apabila kaum muda mati rasa maka matilah sebuah bangsa. ( Pramodya ananta Toer)

            Apakah sumpah pemuda pada tanggal 28 oktober 1928 masih terpatri dan tertanam dalam jiwa pemuda sekarang??

Sepanjang perjalanan perjuangan kemerdekaan tidak terlepas dari peran kaum muda. Dari pra kemerdekaan pemuda sudah menunjukan kepeloporannya dalam melihat situasi dan kondisi kebangsaan. Beberapa dari kaum muda mendirikan sebuah organisasi untuk menganailsa situasi ekonomi politik dan akhirnya mampu melahirkan  gagasan yang progresif dan revolusioner. Ambil contoh pada Moh. Hatta meskipun dia berada di luar negeri atau di belanda tapi masih ada jiwa kebangsaanya untuk mengusir penjajahan kolonialisme Belanda. Contoh lain seperti Semaun yang masih berumur 17 tahun dia sudah memulai perjuangannya dalam memobilisasi kaum buruh kereta api dalam aksi pemogokan. Kemudian soekarno mendirikan sebuah organisasi juga yaitu PNI dengan gagasan marhenismenya. Ketika itu perjuangan melawan Hindia Belanda masih terkotak – kotak atau bersifat kedaerahan, beberapa diantaranya dari jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Sumatra dan pada titik puncaknya lahirlah kongres Pemuda yang kedua pada tanggal 28 oktober 1928 dimana semua dari perwakilan pemuda dari berbagai daerah berkumpul dan bersatu dalam forum itu. Dan disinilah semua kaum muda melahirkan sebuh konsep kebangsaan dan mengikrarkan sumpahnya. Akhirnya jiwa nasionalisme pemuda dari berbagai daerah sudah mulai muncul kesadaran politik dan bernegara dalam merebut kemerdekaan.

            Menjelang pembacaan teks Proklamasi kemerdekaan pemuda kembali menunjukan kepeloporannya dalam merebut kemerdekaan dari penjajahan Jepang. Bisa dilihat dari beberapa pemuda seperti Adam malik, Seyuti malik  dalam aksi radikalnya ketika menculik bung Karno dan Moh. Hatta untuk segera memproklamirkan Indonesia Merdeka melalui teks proklamasi. Dalam peristiwa ini terjadi perdebatan panjang antara golongan muda dan golongan tua. Golongan muda menganggap bahwa Indonesia sudah harus segera mengumumkan untuk segera merdeka dan golongan tua harus menunggu sampai jepang kembali ke Indonesia untuk merundingkan kemerdekaan Indonesia.

            Kemudian pada tahun 1998 kembali pemuda berada dalam garis depan dalam meruntuhkan kekuasaaan tirani orde baru. Situasi politik Indonesia pada saat itu sangat represif terhadap golongan yang berani menentang kekuasaan. Memang dalam meruntuhkan kekuasaan orde baru tidak semuda membalikan telapak tangan. Tapi ini tidak menurunkan semangat juang dan keberanian Mahasiswa. Aktivitas politik melalui gerakan bawah tanah akhirnya mampu mengkosolidasikan secara massif dari beberapa kampus. Kita bisa melihat dari beberapa peristiwa, pada tanggal 24 april tahun 1996 peristiwa yang dikenal dengan April Makassar Berdarah ( AMARAH ) kemudian disusul tragedy Semanggi pada tahun 1998. Para mahasiswa tidak pernah mundur dalam berjuang meskipun melawan senjata dan gas air mata, Mahasiswa hanya mengandalkan suara kebenaran yang dituangkan dalam megaphone. Puluhan nyawa menghilang ada yang dibunuh secara langsung dan ada yang diculik.

 Lantas bagaimana peran Pemuda saat ini?

            Dari beberapa ilustrasi diatas menunjukan bahwa pemuda memiliki peran penting dalam perjalanan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Ditengah gempuran neokolonialisme dan neoimperilasme semangat perjuangan kaum muda mulai merosot. Semangat kebangsaan dan semangat anti imperialisme kini sudah tidak dibicarakan lagi oleh kalangan mahasiswa. Mahasiswa lebih memilih jalan yang oportunis dibandingkan dengan ikut dan terjun langsung dalam pertempuran perjuangan melawan Neokolonialisme .  Bangsa Indonesia yang sampai saat ini masih terjajah baik itu secara ekonomi, politik dan kebudayaan ternyata Mahasiswa masih tetap menutup mata dan lebih memilih untuk tetap diam. Masih banyak kebijakan – kebijakan pemerintah hari ini yang nota benenya sudah tidak berpihak lagi kepada rakyat kecil. Disisi lain para mahasiswa yang memiliki tugas dan tanggung jawab yang besar terhadap bangsa Indonesia kini lebih memilih jalan aman dan enggan untuk tetap berjuang melawan ketidakadilan.  Bukankah para pemuda pendahulu kita telah merelakan jiwa dan raganya bahkan nyawapun yang menjadi taruhannya untuk masyarakat adil dan makmur sesuai dengan cita cita kemerdekaan Indonesia.

Lantas apa yang telah dilakukan oleh mahasiswa saat ini??

           Mahasiswa tetap tidur pulas dengan kondisi kebangsaan hari ini. Pancasila sebagai dasar Negara pun hanya dijadikan sebagai jargon politik untuk tetap melanggengkan kekuasaan. Maka pada momentum Sumpah pemuda yang telah dikumandangkan delapan puluh sembilan tahun silam seharusnya menjadi pemantik dalam menyalakan api Revolusi. Sudah waktunya mahasiswa bangkit melawan segala bentuk penindasan. Mahasiswa hari ini sudah semestinya dan sudah seharusnya tetap berada digaris depan dalam menguatkan sentiment Anti neoliberalisme dan imperilasime. Mahasiswa harus kembali berbicara tentang PANCASILA sebagai fondasi dasar dan arah Bangsa Indonesia menuju masyarakat adil makmur. Dalam situasi sekarang ditengah gempuran pasar bebas, pancasila seharusnya menjadi penunjuk arah dalam menghadang Sistem tersebut.

Pancasila sebagai falsafah hidup dan bernegara haus diimplementasikan secara nyata bukan dijadikan  sebagai jargon politik demi melanggengkan kekuasaan.  

 

Penulis : Firman (Mantan Ketua LMND Kom.UMI Makassar Sekaligus Mahasiswa Teknik Industri UMI)

Editor : Bung Pram

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


*