Guru Sebagai Pembangun Kesadaran Kritis

 

Di tanggal 25 november 2017 yang jatuh pada hari sabtu kemarin, kawan-kawan pasti menemui banyak postingan-postingan didinding sosial-media kawan kawan yang menyinggung Guru dan hal demi hal yang melingkarinya. Ada yang hanya sekedar gagah-gagahan untuk mendapat apresiasi publik (Tren Jaman Now), tapi banyak juga diantaranya memberi semangat kepada guru-guru Indonesia untuk tetap berkarya dan berjuang demi terctercapainya salah satu tujuan daripada Indonesia merdeka yaitu mencerdaskan kehidupan Bangsa. Bahkan, ada juga yang mencibir dengan menggambarkan kerutnya dahi Bapak dan Ibu Guru di Negeri ini karena gaji dan tunjangannya belum mampu menggelar kemakmuran dalam kehidupannya. Memang tidak dapat ditepis fakta sejarah bahwa pendidikan selalu menjadi “gairah” penggerak penyadaran yang pada akhirnya berubah menjadi gulungan-gulangan gelombang massa yang berprotes terhadap kegagalan-kegagalan status quo Kolonialisme diberbagai bangsa yang pada akhirnya memroklamasikan kemerdekaannya. Semisal di Indonesia lewat Ki Hajar Dewantara hingga Sukarno setelah Kerajaan Belanda mengeluarkan program politik etis east Hindia (Indonesia) yang salah satu sub pointnya tentang edukasi (pendidikan) yang dikemudian hari memunculkan tokoh-tokoh nasional saat itu dan menyebarkan kesadaran nation sebagai simpul perlawanan terhadap Kolonialisme Belanda. Dalam arti sempit kata guru dalam KBBI berarti orang yang pekerjaannya (mata pencarian, profesinya) mengajar. Sedangkan dalam arti luasnya, makna guru dapat di petik dari perkataan Ki Hajar Dewantara “Jadikan setiap tempat sebagai sekolah dan setiap orang sebagai guru”. Guru dalam pandangan Ki Hajar Dewantara dapat diartikan sebagai siapa saja orang yang memberikan pengetahuan dalam hal kognisi, moral, dan spiritual. Dalam hal ini siapa saja dapat menjadi guru apabila berperan sebagai pembuka tirani kebodohan. Tapi pada tulisan yang “prematur” ini kita akan membahas guru dalam arti luas, yaitu siapapun dia yang berupaya secara terus menerus memaparkan pengetahuan-pengetahuan baru dalam ranah formal (sekolah-kampus) juga non formal kelompok study, sanggar belajar dan sejenisnya. Paulo Freire (1921-1997) adalah seorang tokoh pendidikan Brazil yang secara epistemologi (pengetahuan) menganggap pusat dari segala aktivitas belajar-mengajar adalah tentang kesadaran. Maksudnya adalah tujuan daripada proses pendidikan haruslah tentang bagaimana membangun kesadaran kritis peserta didik (ideal). Freire, mengkategorisasikan kesadaran dalam tiga bentuk kesadaran. Kesadaran pertama adalah kesadaran magic. Bentuk kesadaran ini selalu mengkambinghitamkankan aspek transendent-metafisik sebagai sumber dari masalah-masalah sosial-ekonomi kebudayaan bahkan pendidikan dalam ranah kognisi (pemahaman) seseorang. Begini kira-kira cara berpikirnya,”Tetangga saya miskin dan bodoh karena memang telah ditakdirkan demikian.” Kesadaran kedua adalah kesadaran naif. Kesadaran ini berpijak pada kemampuan personal/kelompok tertentu dalam pencapaian tujuan-tujuannya. Bentuk kesadaran ini memandang kemiskinan yang dialami seseorang atau sekelompok orang, adalah karena ketidakmampuannya. biasanya dapat ditemukan dalam pemahaman awam masyarakat indonesia dalam pribahasa “Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya.” Kesadaran ini jelas melepaspisahkan tanggung jawab negara-pemerintah dengan kesejahteraan publik, seolah negara terpisah dari usaha usaha rakyat mencapai kesejahteraannya. Kesadaran ketiga dan yang terakhir menurut Freire adalah kesejahteraan kritis. Model kesadaran ini sangat progressif menurut Freire karena kesadaran ini menjahit kebodohan, kemiskinan, dan kemelaratan dengan politik dalam arti tata kelola aspek-aspek kepemilikan bersama, salah satunya mencerdaskan kehidupan Bangsa (pendidikan) sebagai tanggung jawab negara yang tak bisa ditawar-tawar (wajib). Melihat kategorisasi diatas, seharusnya siapapun yang berperan sebagai guru harus memberikan pemahaman bahwa kenyataan sosial adalah buah dari regulasi yang dirumuskan oleh pemangku kebijakan (pemerintah). Ditengah ketimpangan sosial ekonomi yang semakin melebar oleh karena liberalisasi ugal-ugalan yang dilakukan pemerintah Jokowi-JK di semua sektor kehidupan publik (termasuk pendidikan) tugas guru haruslah menjadi pembangun kesadaran kritis peserta didik, tengah kondisi sistem pendidikan nasional yang memang mengarahkan guru (dalam arti luas) termasuk dosen untuk berpikir pragmatis ketimbang berpikir tentang bagaimana model pendidikan yang emansipatif, humanis, dan transformatif sehingga memicu tumbuhnya ruang-ruang diskursus di kalangan peserta didik utamanya Mahasiswa sebagai sebuah lapisan masyarakat intelektual, yang memang sejauh Republik ini ada memegang peran sentral sebagai pelopor terjadinya perubahan – perubahan besar di Indonesiar)

Abdul Gafur R. Sarabiti (Mantan Ketua Kota LMND Makassar)

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


*