LMND Jawa Timur Memperingati 90 Tahun Hari Sumpah Pemuda dengan Menggelar Aksi Demonstrasi

Massa Aksi LMND EW-Jawa Timur

LMND.or.id;  Puluhan mahasiswa  yang tergabung dalam Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND)  Jawa Timur  menggeruduk Gedung Grahadi melaksanakan aksi dalam memperingati momentum 90 tahun Hari Sumpah Pemuda. (28/10/2018).

Aksi ini diikuti oleh mahasiswa-mahasiswa dari berbagai kota & kabupaten di Jawa Timur yang tergabung dalam LMND. Para mahasiswa berasal dari Surabaya, Gresik, Tuban, Pasuruan, Malang, hingga Madiun. Massa aksi adalah kolektif LMND yang sebelumnya mengikuti konferensi wilayah sejak hari sabtu 27 Oktober 2018 di Surabaya.

LMND memandang kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini telah melenceng dari cita-cita kemerdekaan, terkhusus esensi ikrar Sumpah Pemuda. Melencengnya cita-cita kemerdekaan ini ditunjukkan dengan haluan ekonomi Indonesia yang liberal dan kapitalistik serta orientasi pendidikan nasional yang mengarah pada profit dan semakin liberalis. Hal ini menjadi cikal bakal rusaknya persatuan dalam masyarakat Indonesia dan menjadi penghalang untuk mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera.

Didalam orasinya, Farhan selaku koorlap aksi mengingatkan massa aksi bahwa, “90 tahun yang lalu, para pemuda mengikrarkan sebuah sumpah yang berisi: “Kami pemuda-pemudi Indonesia bersumpah bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia”, tapi nyatanya hari ini tanah & air kita dikelola oleh Asing. “Kami pemuda-pemudi Indonesia bersumpah berbangsa yang satu, bangsa Indonesia”, tapi nyatanya hari ini bangsa kita terpecah belah karna pilihan politik.

Sudah seyogyanya LMND hari ini selaku bagian dari pemuda masa kini untuk menyerukan bahwa Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Pemuda harus kembali membaca situasi nasional dan merumuskan gagasan-gagasan yang akan menjadi solusi dalam memperbaikinya, lanjut Farhan.

Berbagai poster dipertunjukkan dalam aksi unjuk rasa ini. Mulai dari poster yang bertuliskan ‘Wujudkan Kedaulatan Pangan Nasional’ lalu ‘Menangkan Pancasila Turunkan Harga Pokok’ kemudian ‘Menangkan Pancasila = Tolak Kebijakan Pro Asing” hingga ada juga ‘Impor Beras = Penjajahan Jaman Now’ dan ‘Stop mencabut subsidi untuk Rakyat!’

Kami mencatat fakta-fakta bahwa: Pendidikan di Indonesia telah berada dibawah dikte pasar. Pendidikan yang merupakan hak yang seharusnya didapatkan oleh para pemuda demi mewujudkan amanat Preambule UUD 1945 yakni Mencerdaskan kehidupan bangsa nyatanya belum difasilitasi sepenuhnya oleh negara. Perjanjian multilateral di antara negara-negara anggota World Trade Organization (WTO) telah menetapkan pendidikan sebagai salah satu sektor industri tersier. Produknya berupa jasa pendidikan yang diperjualbelikan. Pendidikan dengan demikian telah resmi menjadi komoditi ekonomi dan ditempatkan di bawah rezim pasar bebas.

Pendidikan menjadi salah satu diantara sekian sektor yang mungkin untuk ditanami modal swasta. Konsekuensinya adalah semakin besar penetrasi modal internasional ke dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia, mulai dari pendidikan dasar, menengah, hingga ke pendidikan tinggi dan non-formal. Tentu karena tujuan investasi modal tersebut adalah untuk mendapatkan laba/keuntungan, maka institusi pendidikan akan berubah menjadi institusi bisnis, yang proses pengelolaannya berorientasi pada keuntungan.

“Seluruh sektor di liberalisasi, subsidi dicabut, pendidikan mahal karna di komersialisasi, maka solusi dari itu semua adalah Ganti Haluan Ekonomi”, ungkap Ari ketua EW LMND Jatim terpilih saat menyampaikan orasi politiknya.

Oleh karena itu, dalam momentum peringatan 90 Tahun Hari Sumpah Pemuda ini, Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi menyerukan tuntutan politik yang merupakan sebuah Grand Design yaitu:

  1. 2019 Ganti Haluan Ekonomi!
  2. Wujudkan Pendidikan Gratis, Ilmiah, Demokratis, Bervisi Kerakyatan dan dapat diakses oleh seluruh masyarakat indonesia!
  3. Menangkan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara

Menurut hasil kajian kami, haluan ekonomi Indonesia saat ini masih bercirikan konsep neo-liberalisme, maka sudah saatnya haluan ekonomi Indonesia harus diganti menjadi haluan ekonomi yang berdasar pada Pasal 33 UUD 1945. Konkritnya, negara harus serius mewujudkan kedaulatan pangan dan energi dengan menghentikan impor secara bertahap, melakukan reforma agraria dengan yang sebenar-benarnya, dan melakukan inovasi untuk mendukung produktivitas hasil alam. Pemerintah harus menghentikan liberalisasi ugal-ugalan di segala sektor, pemerintah harus mengembalikan subsidi kepada rakyat, bukan untuk memanjakan rakyat melainkan untuk memberikan hak kehidupan yang layak untuk seluruh rakyat Indonesia secara merata.

“Negara harus melaksanakan amanat Pembukaan UUD 1945 dalam alinea ke-4 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka harus ada perubahan paradigma pendidikan nasional yang sebelumnya berorientasi pada profit/laba kearah pendidikan yang memanusiakan manusia serta dapat diakses oleh seluruh rakyat Indonesia”, ujar Edison yang merupakan ketua Eksekutif Kota (EK) Malang didalam orasinya.

“Wujudkan pendidikan gratis, ilmiah, demokratis!”, tambah Rudi dari EK Tuban.

Kami sangat sadar, bahwa perjuangan untuk mewujudkan pendidikan gratis, ilmiah, demokratis ini bukan perjuangan yang mudah sehingga harus menjadi perjuangan bersama seluruh kekuatan demokratik serta menjadi tuntutan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Oleh karena itu, kami atas nama LMND menyerukan kepada seluruh Gerakan Mahasiswa dan Gerakan Rakyat untuk:

  1. Membangun Persatuan Nasional, Hentikan Imperialisme untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur.
  2. Lakukan aksi-aksi massa guna mendesak pemerintah untuk segera melakukan banting stir haluan ekonomi yang liberalistis menuju haluan ekonomi berlandaskan pada pasal 33 UUD 1945.

Aksi ini berakhir dengan membacakan pernyataan sikap  dan menyanyikan lagu perjuangan/

Editor : Bung Pram

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


*