Mengenal Budaya Leluhur, LMND DIY Gelar Malam Sastra

LMND.or.id,  Sabtu malam (25 Mei 2019) bertempat di Pantai Pelangi Bantul, Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) selenggarakan agenda Malam Sastra. Malam Sastra rutin LMND DIY laksanakan setiap dua pekan sekali. Kali ini mengangkat tema Rerupa Budaya Kita.

Irfan Rahangiar yang akrab disapa Wempi selaku ketua LMND DIY menyampaikan bahwa Malam Sastra kali ini dikonsep sedikit berbeda dengan malam sastra sebelum-sebelumnya. Pengangkatan tema Rerupa Budaya Kita menegaskan bahwa bangsa Indonesia memiliki keberagaman identitas dan kebudayaan daerah.

“Indonesia berdiri atas persatuan dari berbagai macam kebudayaan daerah yang berbeda satu sama lain. Begitu juga dengan keanggotaan LMND DIY yang berlatar belakang kebudayaan berbeda-beda,” ungkapnya saat dimintai keterangan.

Malam Sastra biasanya dimaknai sebagai medium penghayatan atas realitas kemasyarakatan dan medium mengekspresikan kemerdekaan anggota. Kali ini dimaknai sebagai media saling mengenali kebudayaan satu dengan yang lain. Anggota-anggota dengan latar belakang budaya yang berbeda ini diminta untuk menampilkan simbol-simbol kebudayaan masing-masing daerah.

“Masing- masing anggota menampilkan budaya leluhur daerahnya dan mempresentasikan maknanya sehingga bisa saling mengenal dan memahami kebudayaan yang lain,” jelasnya. Simbol-simbol kebudayaan yang dimaksud seperti tarian-tarian tradisional, lagu-lagu daerah, puisi bertema kedaerahan dan cerita-cerita rakyat.

Nanda Rifki salah satu anggota LMND DIY mengatakan bahwa selain sebagai sarana mengekspresikan kreatifitas, ia juga mamaknainya sebagai upaya meningkatkan persatuan atas berbagai perbedaan. “Intinya masih sering kita jumpai orang salingm menjatuhkan budaya satu dengan yang lain. Mengaku golongannya lebih unggul. Selain itu juga banyak dijumpai sentimen agama atau pun sentimen primordial. Padahalkan Indonesia ini terbentuk atas dasar persamaan nasib, yaitu sama-sama terjajah oleh kolonialisme Belanda,” Jelas mahasiswa asal Sumbawa, NTB ini.

Melalui agenda-agenda semacam ini juga LMND DIY menyerukan agar masyarakat Indonesia dapat bersatu dan waspada dengan naiknya eskalasi politik SARA. “Akar kebudayaan kitakan sama,yaitu budaya gotong royong. Politik SARA rentan memecah-belah persatuan dan mengaburkan persoalan belum terwujudnya kesejahteraan rakyat. Sekarang waktunya bersatu dan berhenti saling menjatuhkan. Mari, dengan semangat gotong-royong kita wujudkan cita-cita kesejahteraan sosial,” tegas Irfan.

penulis: eko widodo

Editor : Bung Pram

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


*