Menolak Pembangunan Pabrik Semen, 22 Orang Massa Aksi AMPK Jadi Korban Represif Oknum Aparat Kepolisian dan SATPOL PP

Foto massa aksi bakar lilin tolak pembangunan pabrik semen karst paska bentrokan dengan aparat

LMND.or.id- Ratusan mahasiswa dari berbagai elemen organisasi yang tergabung dalam AMPK (Aliansi Mahasiswa Peduli Karst) menggelar aksi lanjutan penolakan pembangunan pabrik semen Sangkulirang Mangkalihat, Kutai Timur di depan kantor gubernur Kalimantan Timur senin (8/4/2019).

Sebelum memulai aksinya, massa aksi melaksanakan shalat berjamaah dilokasi titik aksi. Dalam orasinya Armin Beni selaku kordinator aksi mengatakan bahwa pembangunan pabrik semen Karst tidak akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar area pabrik tetapi pembangunan pabrik ini hanya menjadi lahan dan ruang bagi pemilik pabrik dalam mengeksploitasi kekayaan alam yang dimiliki masyarakat serta hanya untuk proses pengakumulasian keuntungan .

Ketika pabrik ini dibangun dan beroperasi maka ekosistem yang ada pasti akan berubah dan akan menyebabkan kerusakan lingkungan sehingga kestabilan ekosistem selama ini akan terganggu. proses ini harus dihentikan demi keberlangsungan ekosistem yang ada. Rakyat tidak membutuhkan pembangunan pabrik tetapi rakyat membutuhkan tanah dan lahan mereka untuk mempertahankan keberlangsungan hidupnya. Pemerintah wajib melaksanakan amanah pancasila dan UUD 1945 khususnya pasal 33 dalam pengelolaan sumber daya alam.

Selain itu Armin menambahkan bahwa pemerintah harus mengambil langkah tegas dan segera menolak pembangunan pabrik semen demi kepentingan rakyat dan menambahkan bahwa aparat kepolisian harus mengusut tuntas dan menghentikkan cara-cara represif dalam mengamankan jalannya aksi demonstrasi bukan seperti yang terjadi pada aksi Jilid I yang beberapa orang jadi korban akibat kebrutalan aparat dalam membubarkan massa aksi.

Setelah empat orator menyampaikan orasi, tidak lama kemudian Wakil Gubernur (Wagub) Kaltim Hadi Mulyadi langsung mendatangi masa aksi. Namun, massa aksi tidak mau berkompromi lagi, karena apa yang disampaikan Hadi Mulyadi adalah janji untuk mengulur waktu yang sebenarnya tetap memberikan ijin pembangunan pabrik semen. Padahal yang dimaksud oleh massa aksi ialah menyatakan sikap terbuka secara lisan dan tertulis untuk cabut ijin pembangunan pabrik semen.

Bukan melakukan langkah-langkah persuasif dan menerima tuntutan massa malah aparat menyasar massa aksi dan mengambil mikrofon serta merusak mobil komando yang digunakan oleh massa aksi serta gabungan aparat dari Satpol PP dan Kepolisian berseragam lengkap memegang dengan pentungannya, membuka pintu pagar langsung memberikan tembakan peringatan dan tembakan gas air mata, bahkan memukul dan mengejar masa aksi sampai terluka.

Sejauh ini tercatat sebanyak 22 korban luka-luka akibat amukan dari aparat, bahkan sekitar 8 korban diantaranya dirawat di Rumah Sakit.
Tak hanya itu saja, tindakan aparat juga merusak belasan kendaraan mahasiswa serta sound system yang digunakan masa aksi.

Hingga malam hari pukul 19.00 WITA, massa aksi tetap bertahan dengan melakukan aksi diam dirangkaikan pembakaran lilin didepan kantor Gubernur Kaltim. Massa aksi akan tetap melaksanakan aksi sampai tuntutan mereka terpenuhi dan menyerukan kepada seluruh elemen gerakan dan rakyat bergabung dalam gerakan mereka.

Aliansi AMPK terdiri dari : LMND KALTIM,ALMAB, BEM FISIP UNTAG, BEM KM UNMUL, BEM FKTI UNMUL, JATAM, HMI, FNKSDA, GMNI , GMKI, BEM UNU, LEM SYLVA, SENAT HUKUM UNTAG, IMK Muka Him, MPM FISIP UNMUL, PERMAHI, PMNS, IMM, PMII, JKMK, BEM FPIK UNMUL, PMKRI, DEMA IAIN, HIPMAKT SMD, BEM UNIKARTA, FKMKPPU, IKAMI SULSEL, LSK , BEM POLNES, IMAPA UNMUL, BEM IKIP PGRI, FKM BIDUK BIDUK, KAMMI SMD, MAPLOVA, IKMB, KPMKB, BEM HUKUM UWGM, BEM FISIP UWGM, HMI KUKAR, BEM FEB, BEM UMKT, HMKB BENGALON, HMB CABANG SMD, KAPASISBON, KAMMI KALTIMTARA, HMI BADKO KALTIMTARA, WALHI, POKJA 30

Deny Pri Anggara

 

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


*