Bukan untuk Dibaca

Kader dan anggota merupakan penggerak organisasi yang secara sadar memahami tentang dasar, ideologi, dan program perjuangan. Menyebut kader dan anggota sebagai tulang punggung suatu organisasi, akan terbesit tentang satu kata yang lazim kita dengar, yakni “ militan.” Militan, ketika menyebut kata militan kita akan selalu mengarahkan pada sekelompok orang atau orang-orang yang ikut aktif serta dalam satu kesatuan (organisasi, kelompok massa dll).

Dalam kamus besar bahasa Indonesia militan /mi•li•tan/ a bersemangat tinggi; penuh gairah; berhaluan keras: untuk membina suatu organisasi diperlukan orang-orang yang — dan penuh pengabdian. Dalam bahasa Perancis, istilah “militan” memiliki makna yang lebih lunak yang berarti “aktivis”. Militansi merupakan satu kesatuan dari kematangan idiologi, pikir, gerak sikap dengan memiliki kemauan dan berdedikasi tinggi untuk menjalankan roda organisasi. Militansi merupakan wujud dari bentuk konsistensi sekaligus komitmen kader untuk bertahan di jalan mencapai tujuan. Untuk mengukur militansi tidak bisa dengan hanya mengukur banyaknya posisi yang di capai, banyaknya mengikuti kegiatan,banyaknya mengikuti pelatihan dll. Ini merupakan satu kesatuan dari kerja abstrak menuju tujuan ke kerja kongkrit.

Kepemimpinan dan Pengkaderanhari kebangkitan nasional

Untuk menggerakan kader dan anggota menuju militan dengan memiliki kesadaran ideologis, progressif, dengan memiliki kesadaran kenapa harus berjuang serta memiliki kode etik organisasi serta dengan segala taktiknya untuk pembesaran, di perlukan ketlatetan dan konsistensi dalam mewujudkannya. Pengkaderan di lakukan untuk menghilangkan kecendrungan ego di internal ( ekonomisme, anarkhisme, feodalisme, eksisitensialisme dll) Tahap pengkaderan anggota adalah untuk menjaga masa depan organisasi kearah revolusioner.

Seiring dengan berkembangnya zaman anggota di basis, tentu metode-metode pengorganisiran tidak boleh “kecolongan” dengan manisnya dogma-dogma yang mulai di jamurkan di kalangan muda kita. Pengkaderan juga mempersiapkan “mereka” nantinya. Sebuah sistem pendidikan dalam pengkaderan harus di siapkan dengan matang agar menjadi instrumen pendidikan yang menghasilkan kader yang progressif. Membangun sistem pengkaderan yang baik merupakan sebuah strategi pembesaran organisasi. Yang di maksud baik tentu dengan tidak menghilangkan makna kekolektifan organisasi layaknya dalam sebuah keluarga.

Untuk mewujudkan misi pengkaderan yang sesuai harapan tentu membutuhkan peran aktif seorang pemimpin. Pemimpin yang baik bukan tidak cukup dengan seberapa banyak pengikutnya, tapi seberapa banyak bisa menciptakan pemimpin-pemimpin baru yang relevan dengan dinamika organisasi.

Mengutip dari Ki hajar Dewantara mengenai tri logi kepemimpinanya, Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut wuri handayani sekiranya tri logi kepemimpinan ini masih sangat relevan dalam konsep penjalanan roda organisasi.

Ing Ngarsa Sung Tuladha,

Inilah prinsip pertama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin haruslah memberikan contoh yang baik bagi orang yang dipimpinnya. Selalu bertindak dan bertutur kata yang bisa memberikan contoh yang baik dalam menjalankan roda organisasi. Seorang pemimpin harus “selesai dengan dirinya sendiri”. Keteladanan menjadi penting karena akan berpengaruh pada tingkat kepercayaan orang-orang yang dipimpinnya terhadap dirinya.

Ing Madya Mangun Karsa,

Inilah prinsip ke dua yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Pemimpin harus bisa hadir ditengah-tengah orang yang dipimpinnya untuk memberikan gelora semangat sehingga bisa menggerakkan mereka untuk mencapai visinya. pemimpin haruslah bisa bekerja sama dengan orang yang dipimpinnya. Sehingga semua pekerjaan yang dilakukan akan terasa mudah atau ringan dan akan makin mempererat hubungan antara orang yang dipimpinnya dan pimpinan, namun tidak melanggar etika jalur kepemimpinan. Selain itu pemimpin harus bisa memposisikan diri ditengah-tengah masa yang dipimpinnya. Memposisikan diri dalam konteks secara fisik ataupun secara fungsional. Tak hanya itu saja, ia harus hadir secara fungsional artinya ia juga mampu bekerja ditengah-tengah orang yang dipimpinya. Inilah titik perbedaan antara seorang bos dan pemimpin, kalau seorang bos ia hanya memerintah orang yang dipimpinnya, namun seorang pemimpin harus mampu bekerja bersama dan bisa menginternalisasikan semangat kerjanya kepada orang-orang disekitarnya. (http://adityaphisca.blogspot.com/2014/03/trilogi-kepemimpinan-ideal-dalam.html )

Tut wuri handayani

Inilah prinsip ke ketiga yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. yaitu memberi kesempatan kepada orang yang dipimpinnya untuk maju. Memberikan ilmu-ilmu dan bekal-bekal yang akan menambah wawasan dan kepintaran mereka. Janganlah mempunyai pikiran takut tersaingi, berilah kesempatan orang yang kita pimpin kita untuk maju. Seandainya atasan tidak ada maka ada orang yang dipimpinnya yang mampu untuk menghandle. Dan bila pimpinannya cerdas, orang yang dipimpinnya pintar lalu dikelola dengan baik maka tujuan dari kelompok akan tercapai dengan sempurna. Inilah fungsi seorang pemimpin sebagai motivator, ia mampu mendorong kinerja orang-orang di lingkungannya. (Phisca Aditya R) (http://adityaphisca.blogspot.com/2014/03/trilogi-kepemimpinan-ideal-dalam.html )

Perkuat persatuan,bangun dan perluas organisasi. Tugas mendesak saat ini adalah bangkit, bersatu, dan memperluas penyadaran bahwa hanya dengan menegakkan kembali pancasila dan UUD 1945, dengan jalan Trisakti. Cita-cita masyarakat adil dan makmur tidak dapat hanya diperjuangkan oleh segelintir orang. Cita-cita masyarakat adil dan makmur tidak akan mungkin dapat tercapai tanpa bangsa yang berdaulat, bangsa yang mandiri, dan bangsa yang berkepribadian. Terus belajar, baca, diskusi, dan aksi.

Manfaatkan ruang-ruang eksplor organisasi untuk saling belajar satu sama lain,saling bertukar fikiran, bacalah…bacalah…bacalah….Diskusilah…Diskusilah… Diskusilah…aksilah… aksilah… aksilah… minimalisirlah kecendrungan tidak baik dalam internal,gunakan pengetahuanmu,ilmumu,pikiranmu,tenagamu,dll untuk mewujudkan cita-cita sebagai bangsa berdaulat, bangsa, mandiri, dan bangsa yang berkepribadian.

Tulisan sederhana ini masih jauh dari kata semurna,tidak ada maksud membenarkan diri dan hanya bermaksud untuk kembali menggugah kesatuan kita sebagai kolektif untuk satu tujuan. dengan segala keterbatasan refrensi dan bacaan semoga tulisan singkat ini bermanfaat. Silahkan di kritik dengan kritikan yang membangun untuk kita semua.

Jaga Semangat,perkuat persatuan

Salam gotong royong !!!

Yayuk Hidayah
Sekretaris Wilayah LMND.DIY

Refrensi :
Sumber internet :
http://adityaphisca.blogspot.com/2014/03/trilogi-kepemimpinan-ideal-dalam.html di akses pada 24 juli 2015 pukul 20.00
www.wikipedia.com di akses pada 24 juli 2015 pukul 21.00

Sumber buku :
Ki Hajar Dewantara .1977.Bagian pertama : pendidikan karya Majelis Luhur persatuan Taman Siswa:Yogyakarta
KBBI

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


*