LMND.or.id- Sosial kultur masyarakat merupakan sintesis dari agregasi keseluruhan praxis individu yang terlibat dalam pergaulan sosial. Dalam artian lain, seluruh gerak individu pada gilirannya menentukan keterbentukan realitas sosial.

Gerak individu tersebut ditentukan oleh paradigma yang bekerja serupa social determinant of thought – keharusan cara berpikir dalam masyarakat terhadap seluruh fenomena yang direfleksi – sehingga mengkonstruksi perilaku individu sebagai konsekuensinya. Simplifikasi semacam ini memungkinkan kita untuk mengurai anatomi realitas sosial yang berlangsung dengan begitu kompleksnya di tengah-tengah masyarakat.

Di Indonesia sendiri, keterbentukan adat-istiadat, kultur dan budaya dalam masyarakat sepenuhnya merupakan integrasi dari perilaku anak suku yang terlibat dalam pergaulan sosial. Adat-istiadat, kultur dan budaya itu hadir sebagai social reality – kenyataan yang dikonstruksikan secara sosial. Dikonstruksikan secara sosial dalam artian muncul dari pikiran manusia dan berkembang menjadi kenyataan melalui konsensus, interaksi dan habituasi atau kebiasaan.

Dalam problem yang lain, sikap dan perilaku sosial individu penyusun masyarakat tersebut terlampau kompleks. Sikap dalam artian respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan. Respon ini yang kemudian merujuk pada perilaku yang diekspresikan dalam bentuk tindakan, yang merupakan bentuk nyata dari pengetahuan dan sikap yang telah dimiliki. Atau dalam artian lain, masing- masing individu dimungkinkan untuk berbeda tindakan meskipun sedang menghadapi situasi yang sama.

Pada konteksnya, perilaku individu memang berbeda dengan perilaku sosial. Perilaku manusia (individu) dikategorisasi sebagai sekumpulan perilaku yang dimiliki oleh manusia dan dipegaruhi oleh adat, sikap, emosi, nilai, etika, kekuasaan, persuasi, dan/atau genetika. Yang kemudian dikelompokkan dalam perilaku wajar, perilaku dapat diterima, perilaku aneh dan perilaku menyimpang. Yang keseluruhannya diukur relatif terhadap norma sosial dan diatur oleh berbagai kontrol sosial. Sedang perilaku sosial itu sendiri merupakan perilaku individu yang secara khusus ditujukan kepada orang lain. Kendati demikian, perilaku khusus individu yang dimaksudkan kepada orang lain tersebut tetap saja berlandas pada satu pakem yang fundamental, yang memang melekat pada diri pribadinya – berlandas pada logika dasar yang didorong oleh paradigma yang bekerja dimasing-masing kepala.

Setelah membedah bagaimana kenyataan dikonstruksikan secara sosial, kita bisa memahami bahwa realitas sosial sebenarnya tidak murni objektif, melainkan dipengaruhi oleh unsur-unsur subjektif seperti ide, persepsi dan opini dari individu-individu penyusun masyarakat.

*

Fokus dalam lingkup masyarakat Indonesia – dihari-hari belakangan ini – dalam menghadapi pandemi Covid-19 khususnya, gerak individu acapkali diwarnai dengan emosi ketakutan yang kemudian mengkonstruksi interaksi individu-individu dengan sosialnya – mengkonstruksi kepanikan dalam politik pergaulan sosial. Perilaku sosial masyarakat dibentuk oleh emosi ketakutan terhadap pandemi yang dianggap mengancam keberlangsungan hidup. Alhasil, semua bentuk komunikasi individu terhadap sosial selalu dititik-beratkan pada bagaimana cara individu menghindari seluruh potensi terpapar oleh pandemi Covid-19.

Seluruh perilaku individu terhadap sosial hingga praktek kebijakan politik pemerintah digambarkan sebagai antisipasi terhadap ancaman eksternal (pandemi Covid-19) yang dianggap sebagai satu kenyataan pahit yang melingkupi keberlangsungan hidup spesies manusia.

Pada tingkatan pribadi, secara umum ketakutan dapat diterjemahkan sebagai satu bentuk tanggapan emosi terhadap ancaman. Takut adalah suatu mekanisme pertahanan hidup dasar yang terjadi sebagai respon terhadap suatu stimulus tertentu, seperti rasa sakit atau ancaman bahaya eksternal. Rasa takut diakari oleh ketegangan pikiran menyangkut kemungkinan akan kehilangan sesuatu. Dimana sesuatu itu bisa berupa harta, reputasi ataupun hidup. Rasa takut biasanya timbul karena perasaan terancam. Ada yang mengancam harta kita, reputasi kita atau hidup kita, sehingga kita kemudian merasa takut.

Kita semua tahu bahwa ketakutan terbesar kita bukan persoalan hilangnya harta, dipecatnya dari tempat kita bekerja atau pencapaian yang kurang membanggakan. Namun ketakutan terbesar kita adalah kematian. Sejatinya, yang kita takutkan bukanlah Covid-19 – bukan bagaimana kalau virus itu masuk dan berbiak didalam tubuh kita hingga menggerogoti sebagian besar paruparu kita. Tapi sesungguhnya yang kita takutkan adalah kematian. Kita takut akibat terlampau cinta dengan materi dunia. Padahal, Covid-19 hanyalah satu dari sekian banyaknya cara untuk menghadapi kematian. Ini yang tidak selesai dalam kepala kita semua.

Sejurus dengan itu, terdapat masalah besar dalam ketakutan itu sendiri. Ketika kita berada dalam keadaan takut, kita memproduksi pikiran-pikiran yang kacau – kita mengkonstruksi penglihatan akan hal-hal yang belum ada. Sebaliknya, kita justru jadi tidak sadar akan keberadaan hal-hal baik yang sudah ada sebelumnya. Rasa takut itu membuat kita buta, dalam artian membunuh kesadaran kita akan eksistensi fenomena yang sedang terjadi. Rasa takut itu ditumbuhkan oleh cara pikir yang bekerja dalam individu itu sendiri. Menumbuhkan bayang-bayang yang belum terjadi dan bahkan kemungkinannya juga tidak akan terjadi.

Dititik ini, ketakutan diartikan sebagai implikasi dari antisipasi berlebihan terhadap apa yang akan terjadi. Dimana fokus dari ketakuan adalah problem yang akan dihadapi di masa depan.

**

Dari penjabaran sederhana tentang anatomi rasa takut itu, kita bisa melukiskan wajah realitas sosial masyarakat Indonesia ditengah-tengah pandemi yang mengglobal.

Meskipun realitas sosial itu dipengaruhi unsur-unsur subjektif individu yang dimungkinkan untuk berbeda tindakan dalam menghadapi situasi yang sama, namun ketika kita menguraikan anatomi rasa takut, kita selalu punya konsep modus yang sama (modus takut akan kematian), dimana modus itu kemudian berubah menjadi satu faktor yang fundamen – fator yang menjadi alasan utama terbentuknya suatu gerak atau perilaku sosial.

Disamping harapan besar tentang epidemi akan surut dengan cepat, menunggu puncaknya dan kemudian kembali ke kehidupan normal, realitas sosial masyarakat Indonesia dipenuhi dengan emosi ketakutan terhadap pandemi ini. Semua kenyataan sosial dikonstruksi sedemikian rupa dengan motif menghindari diri dari ancaman eksternal tersebut – Kebijakan social distancing, isolasi mandiri hingga rencana fatwa haramnya mudik, menegaskan betapa realitas sosial itu didorong oleh ketakutan dengan dalih antisipasi.

Dalam fenomena yang lain misal, penolakan masyarakat terhadap jenazah korban covid-19 yang hendak dimakamkan di tempat pamakaman umum, lebih dapat kita terjemahkan sebagai ketakutan berlebihan masyarkat terhadap kematian akibat terpapar pandemi tersebut. Dalih memutus rantai penularan, mengurangi potensi terpapar dan lain sebagainya, nyatanya mampu menjubahi modus ketakutan yang sejati itu.

Dilain tempat, perilaku sosial hasil konstruksi dari kebijakan social distancing juga lebih jelas tergambar. Orang-orang menarik diri dari sosial, saling mencurigai satu dengan yang lain, bahkan yang berTuhan sanggup dihilangkan tiangnya, semata-mata didorong oleh paradigma yang menitik-beratkan pada bagaimana caranya agar sebisamungkin kita terhindar dari kematian.

Orang-orang sudah tidak lagi tumbuh dalam semangat gotong-royang dan saling menghidupkan seperti mandat intisari pancasila yang katanya sebagai puncak kultur budaya bangsa. Seluruh perilaku sosial dikonsentrasikan kepada cara manusia-manusia melarikan diri dari kematian.

Orang-orang membangun bayangan atas apa yang akan terjadi pada diri mereka. Yang dimana bayangan itu bersumber dari pengalaman diri sendiri maupun orang lain – mengalami pengalaman pahit dan takut terulang ataupun mendengar cerita pahit dari orang lain atau kabar media dan takut terjadi pada dirinya. Yang kesemua pengalaman itu diterima pahit-pahit oleh mereka-mereka yang tidak berpikir lebih jauh. Pikiran yang tidak kritis menciptakan delusi didalam pikiran mereka.

Jadi terlintas pikiran yang aneh dikepala, yakni “Bagaimana kabar realitas sosial hari ini jika saja masyarakat Indonesia tidak mengkonsumsi kabar berita mengenai kematian akibat covid-19?”

Penulis : Dyah Rumandang (Mantan Ketua LMND Komisariat UMI-Makassar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*