Foto Ketua Umum Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Muhammad Asrul

LMND.or.id– Ratusan mahasiswa dari berbagai kampus dan organisasi yang tergabung dalam Aliansi Mahakam mendapatkan tindakan represifitas aparat kepolisian saat melakukan aksi demonstrasi penolakan UU Cipta Kerja di Samarinda, Kalimantan timur, Kamis (05/11/202).

Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) mengutuk keras tindakan represif dan tidak manusiawi aparat kepolisian dalam mengawal jalannya aksi penolakan UU Cipta Kerja itu. Ketua Umum LMND Muhammad Asrul menilai tindakan aparat kepolisian telah melanggar hukum dan hak asasi manusia.

“Mahasiswa yang menyampaikan tuntutannya ditangkap, diseret-seret diaspal, dipukul, diinjak-injak dan di tendang kepalanya, itu adalah tindakan brutal dan tak manusiawi. Kami sangat mengutuk prilaku aparat kepolisian sebab itu sudah melanggar hukum dan HAM,” ungkap Asrul.

Selain itu, Muhammad Asrul menerangkan bahwa dari banyaknya massa aksi yang ditangkap dan diperlakukan tidak manusiawi terdapat dua anggota LMND. Ia menegaskan akan melakukan advokasi terhadap massa aksi yang ditangkap dan mendorong aksi serentak LMND seluruh Indonesia sebagai bentuk solidaritas perjuangan dan perlawanan terhadap UU Cipta Kerja yang tidak pro rakyat.

“Ada dua anggota LMND yang ditangkap, yaitu Ketua LMND Kalimantan timur Bung Dion dan Dana. Kita akan advokasi kawan-kawan yang di tangkap dan akan mendorong aksi serentak untuk solidaritas dan penolakan terhadap UU Cipta Kerja,” tegas Asrul.

Kemudian, Asrul mendesak Kapolri untuk segera membebaskan massa aksi yang ditangkap dan menghentikan intimidasi serta tindakan represif terhadap mahasiswa dan buruh yang menyampaikan pendapat di tempat umum. Menurutnya, menyampaikan aspirasi merupakan kebebasan berpendapat dalam era demokrasi dan telah dijamin oleh undang-undang.

“Kami mendesak Kapolri untuk membebaskan seluruh massa aksi yang ditangkap. Hentikan tindakan represif terhadap mahasiswa, buruh, sebab menyampaikan pendapat di tempat umum dijamin undang-undang,” kata Asrul.

Perlu diketahui, aksi tersebut awalnya berjalan damai. Massa aksi saling bergantian menyampaikan aspirasinya dan meminta anggota DPRD Kaltim agar perwakilan massa aksi di izinkan masuk ke dalam gedung DPRD.

Massa aksi berharap anggota DPRD Kaltim bersama rakyat untuk menolak UU Cipta Kerja. Namun, permintaan massa aksi tidak dihiraukan oleh anggota DPRD. Akhirnya, dengan semangat yang sama dan terorganisir, mahasiswa berusaha masuk ke dalam gedung DPRD namun dihalang-halangi oleh aparat kepolisian.

Tak berselang lama, aparat kepolisian menembakan gas air mata ke arah massa. Dalam keadaan itu, situasi tidak terkendali dan aparat kepolisian mulai menangkap mahasiswa dan melakukan tindakan represif.

Penulis : Samsudin
Editor : Ando

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*