Foto Anggota LMND Bersama Warga di Lokasi Pengungsian

LMND.or.id– Sejak seminggu terakhir, Posko LMND Peduli melakukan pendampingan trauma healing kepada masyarakat korban gempa Mamuju dan Majene untuk menghilangkan trauma psikologis bagi anak-anak di lokasi pengungsian.

Yunus Bonggapailin selaku Koordinator Posko LMND Peduli Sulawesi Barat mengungkapkan kegiatan trauma healing merupakan kelanjutan dari program Posko LMND Peduli. Ia mengatakan bahwa LMND membentuk 4 posko peduli untuk memudahkan jalur koordinasi dan penyaluran bantuan.

“Terkait bencana Mamuju dan Majene, kita bangun 4 posko yaitu 1 posko induk di kota Majene dan 3 posko cadangan di lokasi pengungsian untuk memudahkan jalur koordinasi dan penyaluran bantuan,” kata Yunus.

Menurutnya, selain bantuan logistik masyarakat juga membutuhkan pendampingan dan penanganan psikologis untuk menghilangkan trauma utamanya anak-anak. Hal ini berdasarkan laporan kawan-kawan yang berada di posko cadangan yang bersentuhan langsung dengan para korban. Kehadiran posko cadangan sangat membantu untuk mengetahui kebutuhan dan kondisi warga yang berada di lokasi pengungsian, ungkapnya.

“Atas laporan dari kawan-kawan di posko cadangan tentang kondisi anak-anak di lokasi pengungsian, makanya kita langsung mengadakan pendampingan trauma healing bagi anak-anak,” kata Yunus dalam laporan tertulis, Senin (01/02/2021).

Yunus Bonggapailin yang saat ini menjabat Ketua LMND Mamuju menyampaikan pendampingan trauma healing sudah berjalan satu minggu dan akan dilakukan sampai keadaan telah kondusif dan anak-anak bisa riang kembali. Ia mengatakan bahwa trauma healing di lakukan di dua lokasi pengungsian yakni pengungsian Takapa, Desa Lombang dan pengungsian Sambalagian, Desa Salutambang.

“Pendampingan trauma healing bagi anak-anak, kita lakukan di dua tempat pengungsian. Kegiatan ini akan terus dilakukan hingga keadaan benar-benar kondusif,” ungkap Yunus.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kegiatan selama pendampingan adalah edukasi dan hiburan bagi anak-anak serta sosialisasi ketika nantinya terjadi gempa susulan.

“Walaupun di lokasi pengungsian, anak-anak harus mendapatkan pendidikan. Kami belajar bersama, menggambar, menyanyi, bermain, membersihkan lingkungan sekitar dan membuang sampah pada tempatnya,” kata Yunus.

Ia juga menjelaskan bagaimana kondisi anak-anak saat berjumpa dengan para relawan. Menurutnya, keadaan mereka masih sangat trauma, khawatir, dan nampak ketakutan. Namun, setelah pendampingan dan hidup bersama, anak-anak tampak sangat senang dan bahagia.

“Awalnya mereka takut, malu-malu, dan tampak masih trauma. Namun, saat berapa lama hidup bersama, mereka sangat senang dan bahagia,” tutup Yunus.

Penulis : Samsudin
Editor : Ando

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*