Foto Ketua Umum LMND Muhammad Asrul Saat Aksi Penolakan UU-Cipta Kerja

LMND.or.id- Gerakan penolakan massa atas pengesahan UU-Cipta Kerja oleh pemerintah dan DPR terus meningkat dan menyebar di seluruh Indonesia. Aksi penentangan yang didasari kesadaran dan idealisme akan masa depan bangsa yang terancam dinodai oleh pernyataan pemerintah yang mendiskreditkan gerakan mahasiswa dan buruh.

Pemerintah menyebut bahwa gerakan penolakan terhadap UU-Cipta Kerja ditunggangi dan digerakkan oleh hoax. Menyikapi hal tersebut, Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) memberikan klarifikasi dan menyampaikan sikapnya secara organisasional melalui pernyataan Ketua Umum LMND.

Ketua Umum LMND Muhammad Asrul menerangkan bahwa gerakan perlawanan mahasiswa dan buruh murni karena idealisme dan kesadaran akan masa depannya terancam dengan adanya UU Cipta Kerja. Ia menegaskan bahwa sejak awal pengajuan hingga pengesahan UU Cipta Kerja, buruh dan mahasiswa telah melakukan protes dan aksi penolakan undang-undang ini.

“Tidak benar buruh dan mahasiswa di gerakkan oleh hoax. Ini murni kesadaran rakyat yang resah atas nasib bangsa ini dengan adanya UU Cipta Kerja. Jadi tidak benar aksi ini digerakkan oleh hoax,” ungkap Asrul.

Dia menegaskan bahwa gerakan mahasiswa dan rakyat tidak dibiayai dan ditunggangi oleh elit politik manapun seperti yang dituduhkan oleh pemerintah. Menurutnya, gerakan mahasiswa dan rakyat murni gerakan yang lahir dari akar rumput sebagai bentuk akumulasi kekecewaan akibat kebijakan dan keputusan pemerintah yang sama sekali tidak peduli terhadap nasib rakyat, seperti pelemahan KPK, penegakan hukum dan HAM yang tidak adil, UU-Minerba, Kenaikan Iuran BPJS, praktek koruptor tidak diselesaikan, UU Cipta Kerja, dan yang lainnya.

“Gerakan rakyat tidak dibiayai atau ditunggangi oleh elit politik manapun seperti tuduhan pemerintah. Gerakan ini lahir dari akar rumput akibat akumulasi kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah, seperti revisi UU KPK, UU Minerba, penegakan hukum dan HAM yang tidak adil, kenaikan BPJS, dan yang lainnya,” kata Asrul.

Selain itu, Asrul juga menyoroti tindakan represifitas dan penangkapan aparat kepolisian terhadap mahasiswa yang melakukan aksi penolakan UU Cipta Kerja. Ia mendesak aparat kepolisian agar tidak bertindak represif dan menangkap massa aksi serta segera membebaskan mahasiswa yang ditangkap saat berjuang menolak UU Cipta Kerja. Asrul menegaskan bahwa tindakan represifitas dan penangkapan tidak akan menyurutkan perjuangan dan perlawanan rakyat tetapi justru akan menguatkan solidaritas dan perlawanan rakyat.

Lebih lanjut, Muhammad Asrul mendesak presiden Jokowi- Ma’aruf Amin untuk segera mencabut UU – Cipta Kerja dan beberapa produk perundang-undangan yang tidak berpihak kepada rakyat. Berhentilah bermain-main dan menganggap rakyat tidak bisa berbuat apa-apa, tegas Asrul.

Terakhir, Asrul mendorong kepada seluruh elemen gerakan untuk terus mengkonsolidasikan diri dan memperkuat simpul-simpul gerakan serta memperluas gerakan perlawanan terhadap UU – Cipta Kerja.

“Terus konsolidasikan dan perkuat simpul-simpul gerakan serta perluas gerakan perlawanan terhadap UU Cipta Kerja,” tutup Asrul.

Penulis : F. Jos
Editor : Samsudin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*