Foto Ketua umum LMND Muhammad Asrul dan Sekretaris Jenderal Reza Reinaldi Wael

LMND.or.id– Dalam diskusi Webinar pada Kamis (01/10/2020) Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) mengangkat soal penembakan dan pelanggaran HAM di Indonesia, yakni “Satu Tahun Kematian Randy-Yusuf, Hukum, Demokrasi dan HAM Di kebiri”?.

Sekertaris Jenderal Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Reza Reynaldi Wael menerangkan, bahwa kegiatan ini untuk merespon kondisi penegakan hukum dan penuntasan kasus-kasus pelanggaran HAM di Indonesia yang tidak kunjung menemukan titik terang. Ia menyatakan pemerintah dan instansi kepolisian terkesan sangat lamban dalam mengusut pelanggaran HAM demi mewujudkan keadilan kepada rakyat.

Menurutnya, sikap pemerintah yang tidak konsekuen menyelesaikan kasus kematian Randy-Yusuf menegaskan bahwa pemerintah telah menambah daftar dosa panjang atas tidak berpihaknya hukum bagi rakyat kecil.

Diskusi ini diisi oleh narasumber dari pihak keluarga korban (Randy-Yusuf) yaitu LM. Rahmat Manangkiri, Ombudsman Sulawesi Tenggara Mastri Susilo, dan Ketua Umum LMND Muhammad Asrul. Sebenarnya diskusi ini akan dihadiri oleh Kontras, namun hingga berakhirnya diskusi perwakilan Kontras tidak ada. Dalam diskusi tersebut, mengungkap banyak kejanggalan dalam proses penanganan kasus Randy-Yusuf, intimidasi terhadap saksi dan proses BAP kepolisian yang menyalahi prosedur.

LM. Rahmat Manangkiri mengatakan bahwa sejauh ini kasus kematian Randy sudah sampai meja pengadilan. Ia menyatakan Brigjend (AM) telah ditetapkan sebagai terdakwa atas penembakan yang menyebabkan kematian Randy. Selain AM, ada 6 orang anggota kepolisian yang dijatuhi pelanggaran disiplin sebab dianggap terlibat dalam kematian Randy.

Dalam kasus Randy, Rahmat menyampaikan ada kejanggalan dalam proses penyelidikan yang dilakukan oleh aparat kepolisian. Menurut saksi kunci kasus kematian Randy yang di sampaikan kepada Rahmat bahwa dia di BAP sebanyak dua kali, yang pertama di Polda Sultra dan kedua di salah satu rumah petinggi kepolisian Sultra. Selain itu, saksi kunci juga di intervensi dan diarahkan untuk menunjuk siapa saja pelaku penembakan pada 26 September 2019.

Sedangkan untuk kasus kematian Yusuf, ia mengatakan sampai saat ini belum ada progres dari kepolisian untuk menuntaskan kasus ini. Padahal dari pihak keluarga dan kawan-kawan almarhum Yusuf telah menyerahkan bukti berupa selongsong peluru dan 3 orang saksi kunci. Saksi kunci yang dimaksud adalah orang yang bersama Yusuf saat kejadian dan sempat ingin membantu korban namun ditodongkan pistol oleh oknum aparat.

LM. Rahmat Manangkiri menyesalkan tindakan pemerintah dan kepolisian yang lambat dalam menyelesaikan kasus ini. Menurutnya, sejauh ini pihak keluarga telah melakukan banyak langkah menuntut keadilan bahkan orang tua Randy-Yusuf sampai berangkat ke Jakarta untuk mendapatkan keadilan. Namun, ada indikasi dari instansi pemerintahan untuk menutup-nutupi agar kasus ini tidak terungkap.

Selain itu, narasumber lain, Ketua Umum LMND Muhammad Asrul mengatakan bahwa selama era pemerintahan Presiden Jokowi semangat dalam perlindungan HAM dan penegakkan hukum di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Ia menilai lambannya penyelesaian kasus kematian Randy-Yusuf menandakan matinya keadilan di bumi Pancasila. Hukum dan keadilan di negeri ini, baginya, hanya sebagai simbol saja untuk rakyat kecil. Hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah sangat jelas terlihat di negeri ini.

Pemuda asal Muna ini menegaskan bahwa secara organisasional LMND akan terus memperjuangkan keadilan terhadap almarhum Randy-Yusuf. Ia menyatakan sekian banyak usaha keluarga dan kawan-kawan memperjuangkan keadilan namun kepekaan pemerintah tak kunjung hadir.

Olehnya itu, menurut dia perlu front dan platform perjuangan yang lebih besar untuk mengkonsolidasikan gerakan dalam menuntaskan kasus kematian Randy-Yusuf. Sehingga dapat memberikan tekanan politik yang lebih besar untuk mendesak pemerintah dan kepolisian agar segera menyelesaikan kasus ini dengan seadil-adilnya dan terbuka kepada publik.

Selain menyoroti kasus pelanggaran HAM terhadap Randy-Yusuf, Asrul juga mengomentari banyaknya pelanggaran HAM dan tindakan represifitas aparat kepolisian terhadap para petani yang memperjuangkan tanahnya. Menurutnya, aparat kepolisian telah kehilangan orientasi dalam berhadapan dengan rakyat. Bukan lagi sebagai pelindung dan pengayom masyarakat tetapi sebaliknya. Asrul mengatakan bahwa Kepolisian saat ini telah menjadi alat kekuasaan modal.

Narasumber ke tiga, Ombudsman Sultra, Mastri Susilo mengatakan bahwa akan terus melakukan pengawalan dan pemantauan perkembangan kasus penembakan yang dialami oleh almarhum Randy-Yusuf. Menurutnya, Randy-Yusuf adalah pejuang demokrasi yang syahid di medan juang.

Diakhir diskusi, LM. Rahmat Manangkiri membacakan pesan dari Ibunda almarhum Yusuf untuk kepolisian Republik Indonesia. Pesan ini diterima Rahmat sehari sebelum diskusi Webinar di langsungkan. Berikut isi pesan tersebut dalam bentuk aslinya tanpa editan:

Bunda menitip pesan buat para aparat penegak hukum,agar mereka lebih bekerja dengan hati nurani,mengedepankan rasa kemanusiaan,memberikan informasi kasus secara transparan,Harapan sy sebagai orang tua,tentu sama dengan harapan kita semua,ingin penuntasan kasus secepatnya dan proses hukum yg transparan,keadilan yg seadil adilnya,sesuai dengan aturan hukum di negara kita..

ibu sangat berharap kepada para penegak hukum agar segera menjawab kegelisahan publik,menetapkan tersangka,dan memastikan proses hukumnya.satu tahun adalah waktu yg cukup lama bagi kami untuk bersabar menanti keadilan itu..ini hrs segera diselesaikan agar ada efek jera terhadap para pelaku,dan kepuasan bagi kami orang tuanya,mungkin dgn adanya tersangka bisa sedikit mengobati luka kami,sedikit bisa memberi kepuasan batin kami.tapi yg lebih terpenting agar tdk ada lagi peristiwa serupa,dan tdk ada lagi orang tua yg hrs merasakan sakit seperti kami.

Penulis : Samsudin
Editor : Ando

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*