Foto Departemen Pendidikan dan Kaderisasi (DPK) Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) La Jeri

LMND.or.id– Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) turut berdukacita atas tragedi kemanusiaan meninggalnya ratusan suporter Arema yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang. Sebanyak 448 korban atas insiden tersebut, diantaranya 302 mengalami luka ringan, 21 orang luka berat, dan 125 orang meninggal dunia.

“Turut berbelasungkawa atas insiden di Stadion Kanjuruhan, Malang. Semoga saudara-saudara kita yang meninggal mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan kesabaran,” ungkap La Jeri dalam diskusi, di Jakarta timur, Senin (03/10/2022).

La Jeri mendesak pemerintah agar peristiwa di Stadion Kanjuruhan dievaluasi dan diselidiki secara keseluruhan. Menurutnya, sepak bola seharusnya menjadi hiburan yang menyenangkan bagi masyarakat bukannya melahirkan duka, nyawa terlalu berharga hanya untuk sebuah pertandingan sepakbola.

“Evaluasi secara detail dan objektif semua yang terlibat dalam penyelenggaraan liga satu baik aparat kepolisian, militer, panitia, tata kelola dan manajemen PSSI, maupun jadwal pelaksanaan serta berikan sanksi tegas bagi siapapun yang lalai dalam proses itu,” tegas Jeri.

Ia menilai peristiwa yang terjadi di stadion Kanjuruhan merupakan tragedi kemanusiaan yang sangat memilukan. Ia beranggapan aparat keamanan melakukan pengamanan tidak secara prosedural dan profesional sehingga mengakibatkan kematian massal.

“Penembakan gas air mata di ruang semi terbuka dengan massa yang besar adalah tindakan yang ceroboh. Akibatnya, menimbulkan kepanikan, orang berdesak-desakan, sesak nafas, dan terinjak-injak. Padahal, FIFA telah melarang penggunaan gas air mata dalam pengamanan sepakbola,” kata Jeri.

Selain itu, ia menyoroti sistem dan manajemen penyelenggaraan liga satu, yang menurutnya lebih mementingkan rating dan keuntungan daripada keselamatan para penonton. Ini terlihat dari jadwal pelaksanaan pertandingan, yang mana aparat kepolisian telah merekomendasikan agar dilaksanakan pada siang hari dengan pertimbangan keamanan tetapi hal itu tidak diindahkan.

“Panitia pertandingan pikirannya sangat kapitalistik. Penonton harusnya disesuaikan dengan kapasitas stadion tetapi nyatanya tidak demikian. Suporter yang hadir melampaui kapasitas stadion,” ujar Jeri.

Selain itu, ia mengharapkan agar para suporter sepakbola lebih mengedepankan nilai-nilai sportifitas dan tidak fanatisme berlebihan. Menurutnya, semangat kebersamaan dan saling menghargai sesama anak bangsa harus menjadi prioritas untuk membangun persepakbolaan nasional yang lebih baik, sehingga peristiwa serupa tidak terulang di kemudian hari.

Penulis : Samsudin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*