Foto Nurhidayat Hi. Gani

LMND.or.id– Salam juang kepada seluruh kawan-kawan LMND seluruh Indonesia

Mengawali tulisan ini, kebetulan masih dalam momentum suasana lebaran, saya ingin mengucapkan mohon maaf lahir dan batin.

Selamat berjuang bagi bakal calon kepala daerah (Gubernur/Wakil Gubernur,Bupati/Wakil Bupati, Walikota/Wakil Walikota) di seluruh Indonesia, khususnya di Maluku Utara, yang saat ini giat mencari dukungan dan membangun komunikasi politik guna mendapatkan rekomendasi partai sebagai syarat pencalonan. Bagi yang sudah mendapatkan rekomendasi saya ucapkan selamat menuju ke tahapan selanjutnya, juga kepada bakal calon yang belum mendapatkan rekomendasi partai dan pasangan calon, tetaplah bersemangat. Kita berharap momentum politik kedepan dapat menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi yang berkeadilan dan penuh etika (jujur, adil, dan berintegritas).

Mengikuti arus berita beberapa bulan ini antara wacana politik dan covid-19 di media cetak maupun online, sebagian besar terpampang dan didominasi oleh wacana covid-19. Wabah Corona masih menjadi fokus utama pemerintah untuk menghentikan rantai penyebarannya, walaupun masih memiliki kekurangan dan kelemahan dari berbagai aspek. Angka kasus terinfeksi serta kematian yang disebabkan virus ini meningkat cukup drastis, hingga pemangku kebijakan terkesan kebingungan dalam mengambil langkah strategis yang terukur untuk memerangi virus tersebut. Di Maluku Utara sendiri sudah sekitar 956 OTG, 82 ODP, 34 PDP, 119 Positif, 21 sembuh, 6 Meninggal (malut post kamis 28 mei 2020).

Covid-19 telah memberikan tekanan psikologis yang menyebabkan kekhawatiran kepada masyarakat. Selain ancaman kematian akibat wabah tersebut, masyarakat dihadapkan pada ancaman kelaparan sebagai konsekuensi dari kebijakan pemerintah yang mengharuskan masyarakat berada di rumah. Banyak masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya karena kehilangan pekerjaan. Bekerja di rumah tidak mungkin dilakukan oleh seorang petani, nelayan, dan  buruh, karena objek kerjanya bukan dirumah. Dari sisi inilah, membuat sebagian besar orang yang berprofesi non ASN tercekik dengan kebijakan tersebut.

Akan tetapi ada langkah-langkah yang di ambil oleh pemerintah untuk menopang kebutuhan sehari-hari kepada rakyat yang tergolong standar ekonominya lemah (miskin) maupun mereka yang kehilangan pekerjaan. Dana insentif tersebut di antaranya PKH, BLT-DD, Bansos Non-Tunai, Kartu Pra Kerja  dan yang lainnya. Namun, bantuan yang disiapkan pemerintah untuk menstimulus ekonomi rakyat sekaligus mempertahankan daya beli masyakarakat menuai beragam kritikan. Persoalan yang umumnya ditemukan di daerah-daerah terkait pada pendataan, pendistribusian yang tidak tepat sasaran dan tidak adanya transparansi anggaran. Selain permasalahan itu, ada juga pihak atau oknum tertentu yang memanfaatkan bantuan-bantuan untuk kepentingan politik sebagai tahapan konsolidasi politik pada pemilihan kepala daerah tahun 2020.

Keadaan demikian juga digunakan oleh bakal calon kepala daerah atau simpatisan politik (tim sukses) untuk menarik simpati dan dukungan publik dengan memberikan bantuan kepada masyarakat, misalnya pemberian masker yang berlogo partai atau tokoh, sembako dari bakal calon, APD, dan lain sebagainya. Mudah-mudahan beberapa  bantuan dari bakal calon Bupati/Walikota dan juga partai politik, ormas bukan investasi politik yang menuntut dukungan dan pemaksaan terhadap masyarakat melainkan atas dasar peduli antar sesama. Apalagi dalam waktu dekat kita akan  menjemput satu momen politik besar yang biasa di sebut politisi reaksioner ‘’Pesta Demokrasi’’ (PILKADA), ini tentunya ada indikasi pemanfaatan momen covid-19 untuk melakukan konsolidasi politik.

Covid-19 dalam pandangan kacamata politik liberalisme merupakan suatu momen besar bagi kelompok tertentu untuk mencapai kepentingan. Ini bukan justifikasi, tetapi setiap ritme poitik suatu negara yang menganut sistem ekonomi kapitalisme seperti Indonesia sekarang ini, akan menjalankan misi politiknya sesuai dengan apa yang dibutuhkan dan kebutuhan pasar global (bukan kebutuhan rakyat). Pola pikir politik liberalisme ini jika di pandang secara humanis tentunya melengserkan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri, dan lari jauh dari pola pikir politik ala PANCASILA yang orientasinya menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Gambaran sederhananya dapat kita lihat dinamika politik Indonesia saat ini, dimana elit politik maupun partai politik, sudah tidak lagi beradu argumen atau programatik perjuangan untuk masa depan bangsa melainkan beradu modal (uang) yang akhirnya merekonstruksi pikiran politik baru terhadap masyarakat (money politik) yang sudah mendarah daging.

Money politik tidak hanya melukai prinsip demokrasi kita, money politik juga akan membunuh pemikiran kritis generasi selanjutnya dan akan menciptakan generasi yang pragmatis dan apatis. Apalagi di era digital sekarang ini, terlihat tranformasi budaya lama ke budaya baru  cukup signifikan. Hal ini tentunya harus ada langkah antisipatif untuk mencegah model politik baru yang akan menghancurkan demokrasi. Harus ada penyesuaian zaman,  untuk mencegah terciptanya suatu budaya politik baru yang lebih ganas dari money politik. Misalnya, mengumbar berita palsu terhadap rival politik di media sosial, berita hoax, dan lain-lain yang mengotori prinsip-prinsip demokrasi bangsa ini. Dalam kajian perilaku dan psikologi politik, peran media sangat penting untuk mempengaruhi perilaku politik publik melalui kampanye media. Olehnya itu, konsolidasi politik harus sesuai dengan etika politik dan prinsip demokrasi kita.

Bencana covid-19 ini harus di jadikan sebagai pelajaran utama untuk mengevaluasi diri terutama untuk pejabat publik, elit politik, partai politik, ormas, LSM, dan juga pengusaha,  agar menciptakan suatu paradigma berpikir baru yang bersandar pada kepentingan umum dan kemaslahatan bangsa. Harapannya di tengah suasana duka ini tidak ada yang mempolitisasi kesempatan guna menarik simpatisan untuk kepentingan PILKADA nanti. Jika ingin memenuhi kebutuhan publik, penuhilah dengan jiwa humanismu, Sesunggunya tiada yang paling berharga di dunia ini selain peduli antar sesama. Sebagai penutup meminjam pepatah bijak dari Bung Karno ‘’ Bangunlah suatu dunia dimana semua bangsanya hidup dalam damai dan persaudaraan’’.

Penulis : Nurhidayat Hi. Gani (Ketua Komisariat LMND UMMU Ternate)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*