Ketua Umum Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Muhammad Asrul

LMND.or.id- Dunia lagi diguncang oleh pandemi Covid-19, Setiap hari jumlah yang terinfeksi dan meninggal terus bertambah. Berdasarkan data 22 Mei 2020, dalam laman word o Meters jumlah yang terinfeksi sebesar 5,188 juta jiwa, Meninggal 334.057 jiwa serta yang sembuh berjumlah 2.078.467 orang. Sementara untuk Indonesia berdasarkan laporan gugus tugas, jumlah yang terinfeksi sebanyak 20.796 orang, Meninggal 1.326 Jiwa dan yang dinyatakan sembuh sebanyak 5.057 orang.

Dari data korban diatas, akibat Covid-19 baik didunia maupun nasional terus mengalami peningkatan setiap harinya. Selain penyebaran virus yang begitu cepat dan tak terdeteksi dini, kebijakan pemerintah yang kurang cepat dan tegas menjadi penyebab terus bertambahnya korban akibat coronavirus ini. Sementara negara-negara dengan cepat mendeteksi dan tegas dalam menerapkan protocol pencegahan berhasil memutus mata rantai penyebaran virus ini. Selain respon yang cepat dan tegas negara-negara yang berhasil tentunya didukung oleh infrastruktur  dan industry Kesehatan yang memadai. Seperti Infrastruktur rumah sakit, Ruang Isolasi, Tenaga Medis, Industri farmasi, industri Alkes sebagai instrument atau benteng pertahanan penting dalam proses penanggulangan Covid-19. Negara-negara dengan kemajuan industri Kesehatan dan didukung dengan respon cepat dan tegas dari pemerintah akan dengan mudah keluar dari serangan Covid-19 ini.

Mungkin dunia bisa mengambil pelajaran dari Cina dengan kemajuan Industrinya bisa membangun rumah sakit dalam waktu 10 hari, mendeteksi penyebaran virus dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, Memiliki Tenaga medis dengan kuantitas dan mutu memadai, Memiliki Industri farmasi dan Alkes yang cukup Maju, sama halnya dengan Singapura. Selain itu dunia juga bisa belajar dari Vietnam dengan disiplin nasional dan respon cepat pemerintah mampu dengan cepat menanggulangi penyebaran Covid-19 ini dengan baik. Untuk Tenaga Medis, Dunia bisa belajar dari Kuba yang memanfaatkan situasi Covid-19 ini untuk misi kemanusiaan dengan mengirimkan tenaga-tenaga medisnya di beberapa negara yang membutuhkan akibat kuantitas tenaga medis mereka melimpah sebagai output dari keberhasilannya dalam menata dan mengelola sektor Pendidikan paska revolusi yang terjadi di negaranya.

Terus muncul pertanyaan bagaimana dengan Indonesia dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini???

Sebenarnya Indonesia adalah negara dengan sumber daya manusia serta sumber daya alam yang mendukung, jika pemerintah sejak dulu bisa melihat potensi tersebut. Namun disaat pandemi Covid-19 ini, Indonesia dalam segala sektor kewalahan dalam menanggulangi jumlah korban dan memutus mata rantai penyebaran. Hal ini bisa kita lihat dari kebijakan pemerintah yang saling tumpang tindih, Miskomunikasi dengan pemerintah daerah, Infrastruktur yang tidak memadai, Industri Alkes dan farmasi masih mengandalkan impor serta minimnya tenaga medis sebagai bentuk ketidaksiapan kita dalam menghadapi situasi darurat seperti sekarang ini.

Dari semua penyebab tadi, faktor yang perlu kita soroti adalah ketergantungan akan impor pemerintah terhadap ALKES dan produk farmasi.

Berdasarkan data BPS 2019 nilai impor bahan baku pemerintah sebesar US$ 1 Milyar atau lebih dari 15 Triliun. Dengan mengimpor alat elektronik untuk medis sebesar US$ 358,8 juta, Perangkat elektronik medis dan perangkat radiologi sebesar US$ 268  juta, Alat X-Ring medis US$ 87,2 Juta.

Kemudian alat bedah, Cetakan plastic dan perangkat higienis sebesar US$ 53,5 juta, Alat scanning ultrasonic sebesar US$ 48,4 juta, Caheter besarannya 38,9 juta dan Steriliser medis, beda atau laboratorium sebesar US$ 32,3 juta. Belum lagi kebutuhan ALKES saat pandemic Covid-19

Sementara total impor untuk produk farmasi asal Cina selama 2020 mencapai USD 6,8 Juta dan mengalami kenaikan sebesar 2,8 % dibandingkan bulan sebelumnya.

Dari data diatas, sudah seharusnya pemerintah mendorong adanya kemandirian Kesehatan nasional dengan memperhatikan beberapa hal yang perlu dipersiapkan dan didukung antara lain :

Pembangunan Industri Kesehatan Nasional

Diawal pandemic Covid-19 di Indonesia, pemerintah sangat kewalahan dalam memenuhi Alat Pelindung Diri (APD) tenaga medis bahkan untuk memenuhinya harus mengimpor dari negara Cina. Padahal didalam negeri kita punya kemampuan untuk memproduksi APD. Selain APD, Indonesia juga mengimpor Raspid test, Ventilator, obat-obatan dalam upaya penanggulangan Covid-19. Padahal menurut Menteri BUMN Sebagian alat Kesehatan ini bisa diproduksi dalam negeri dengan memanfaatkan peran strategis BUMN. Misalnya PTDI, PT. PINDAD dan PT. LAN bisa memproduksi ventilator, Bio farma dan Indofarma bisa memproduksi alat tes Covid-19 serta Kimia farma dalam urusan produksi obat-obatan. Sub Holding BUMN ini harus terus didorong untuk mempersiapkan industry Kesehatan nasional lewat kebijakan Health Security Nasional. Kebijakan ini tentunya selain menjadi benteng pertahanan nasional dalam menghadapi pandemi, juga bisa mendorong daya saing industry Kesehatan nasional. Pembangunan industri Kesehatan ini sangat penting lantaran Indonesia belum memiliki kemandirian didalam memproduksi ALKES dan obat-obatan yang 90% masih bergantung pada impor, Khususnya impor bahan baku. Ketergantungan pada impor bahan baku ini menjadi bukti tidak adanya kemandirian Kesehatan nasional.

Dalam upaya mendorong kemajuan Industri Kesehatan nasional kemeterian BUMN juga harus wajib melibatkan Perguruan Tinggi, Peneliti, Akademisi untuk bisa bersinergi dalam kemajuan industry nasional. Karena tanpa keterlibatan Perguruan Tinggi, maka kualitas industry nasional tidak akan mungkin bisa bersaing dan bertahan ditengah pertarungan industry Kesehatan global. Lebih-lebih saat terjadi pandemi

Selain itu juga pemerintah sudah seharusnya mempersiapkan Master Plan dan road map pembangunan Industri Kesehatan Nasional, agar bisa dipastikan tahapan pembangunannya. Baik dari hulu sampai ke hilir sebagai satu Langkah progresif jangka Panjang untuk mendorong daya saing global industry Kesehatan nasional dan bisa mewujudkan kedaulatan dalam dunia ALKES dan farmasi. Karena ALKES dan farmasi ini, bagi negara yang sudah berdaulat dari keduanya, bisa meraup keuntungan yang signifikan dengan memanfaatkan ruang pasar global serta masih banyaknya negara dengan keterbatasan ALKES dan Obat-obatan.

Pemberantasan Mafia

Selain tidak mendukungnya industry Kesehatan nasional, problem lain yang menyebabkan kita selalu tergantung pada hasil impor Kesehatan adalah banyaknya mafia yang bermain. Para mafia Kesehatan ini biasanya menggunakan jejaring politik mereka, agar pemerintah membuka kran impor Alkes dan obat-obatan. Karena dengan membuka kran impor, para mafia ini akan memainkan peran dan meraup keuntungan sebanyak-banyaknya serta membiarkan produk Kesehatan dalam negeri tidak bisa maksimal untuk berproduksi dan hasil produksinya tidak terserap. Untuk itu pemerintah, khususnya kementerian BUMN setidaknya harus mendorong instansi dibawah naungan kementerian BUMN untuk bisa memaksimalkan penyerapan produksi.

Dalam proses pemberantasan mafia Kesehatan ini, Pemerintah juga harus menggandeng aparat penegak hukum serta menetapkan regulasi dan sanksi yang tegas, Jika masih ada pihak yang bermain-main soal ALKES dan obat-obatan. Butuh ketegasan dan keberanian dalam memberangus mafia Kesehatan ini. Karena sejak dulu, ALKES dan obat-obatan menjadi ladang subur investasi serta bisnis yang sudah mengakar yang membuat industry farmasi dan ALKES nasional tidak berkembang dan maju serta masih mengandalkan impor.

Utamakan Produk Kesehatan Dalam Negeri

Faktor ketiga ini harus diprioritaskan oleh Menteri BUMN jika betul-betul memiliki keinginan besar dalam membangun industry Kesehatan nasional. Produk dari sub holding BUMN harus diserap di lingkungan Kesehatan. Karena dengan penyerapan produk ini, akan mendorong kemajuan industry. Langkah ini harus didukung dengan kebijakan kementrian BUMN maupun kementerian Kesehatan serta kementerian perindustrian dan perdagangan agar supaya bisa memaksimalkan industry dari dalam negeri serta mulai perlahan-lahan melepaskan diri dari ketergantungan produk impor. Karena dengan terus menerus tergantung pada produk impor maka akan semakin membuat industry nasional kita tidak terbangun dan maju lantaran produksinya tidak terserap. Penyerapan produksi ini bisa dimulai dari instansi dibawah naungan kementerian Kesehatan mulai menyerap dan menggunakan produk Kesehatan dalam negeri. Selanjutnya hal ini bisa di ikuti oleh rumah sakit-rumah sakit negeri. Dengan seperti ini maka kedaulatan Kesehatan nasional akan terbangun dan secara perlahan-lahan mulai terlepas dari ketergantungan impor yang tentunya  merugikan negara dan menguntungkan para mafia Kesehatan.

Penulis: MA
Editor : Samsudin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*