Salim Lumajang, Satu dari Seribu Korban Kasus Agraria di Indonesia

Kembali lagi korban meninggal disebabkan oleh kasus agraria/ pertambangan yang ada di Indonesia. Pada Sabtu pagi, 26 September 2015, terdengar kabar tewasnya aktivis penolakan penambangan pasir besi di Desa Selok Awar-awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang. Dua orang aktivis penolakan penambangan tersebut di anianya oleh puluhan orang tidak dikenal hingga salah satunya, Salim (Kancil) tewas dan Tosan dilarikan ke Rumah sakit dalam keadaan kritis. Keduanya terlibat dalam aksi menolak penambangan pasir di Desa Selok Awar-awar. Warga menggelar demonstrasi pada 9 September 2015 lalu. Aksi tersebut menuntut penghentian penambangan bahan galian C pasir. Aktivitas penambangan dinilai telah merusak lingkungan pesisir pantai. Sejak setahun terakhir ini, terjadi pengerukan besar-besaran di pesisir pantai hingga meninggalkan lubang-lubang berdiameter 5 meter dengan kedalaman 1 meter.

Kasus kematian Salim Kancil ini bukan salah satu kasus yang mengejutkan di Indonesia dalam kurun waktu terakhir dalam persoalan konflik agraria/pertambangan, dalam data Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) sekitar 472 kasus agraria terjadi di Indonesia di tahun 2014 dengan 3 juta hektare lahan sengketa. Bahkan di tahun 2013, terjadi 367 kasus konflik agraria dengan 21 orang tewas. Di balik kasus pembunuhan dan penganiayaan Salim dan Tosan dalam penolakan penambangan pasir besi desa Selok Awar-awar ditengarai ada skema besar dari perusahaan pertambangan PT. Indo Modern Mining Sejahtera dalam kasus ini. PT. Indo Modern Mining Sejahtera pada tahun 2010 telah menginvestasikan 2 triliun dengan target produksi pasir 20.000 ton/hari untuk ruang seluas 2 ribu hektare penambangan pasir besi di pesisir selatan Lumajang. Skema besar pengusaha dalam mensukseskan kepentingannya, perusahaan dalam membuka kawasan pertambangan, perkebunan atau lainnya, akan melakukan intimidasi kepada warga agar menerima kehadiran industri tersebut dan menyetujui tindakan mereka mengeksplorasi sumber daya alam. Modus selanjutnya adalah pihak pengusaha melakukan usaha-usaha menciptakan konflik horizontal di tengah masyarakat.

Melihat kasus ini, gejolak konflik pertambangan dan agraria di Lumajang bahkan Indonesia seharusnya mendapat upaya serius dari pemerintah dan penegak hukum dalam meneggakkan UU Pokok Agraria 1960 dan Pasal 33 UUD 1945 sebagai landasan desain peraturan tanah dan pertambangan. Keluarnya UU sektoral seperti UU Sumber daya air, UU Kehutanan dan UU Mineral dan batu bara yang telah diliberalisasi dan hanya menguntungkan para investor dalam penguasaan tanah dan sumber daya alam semakin menegaskan arah pembangunan bangsa yang sudah tidak pro terhadap kepentingan rakyat. Peraturan yang dibuat dari tingkat UU sampai Izin Usaha Pertambangan melalui kepala daerah setempat merupakan watak peraturan liberal yang memberikan kebebasan kepala daerah dalam mengatur pertambangan/ agraria yang dilapangannya bertentangan dengan UU diatasnya. Kasus kematian Salim dalam kasus agraria menjadi bukti peraturan pemerintah lebih mengutamakan kepentingan pengusaha/ investor daripada rakyat. Konsep Trisakti yang menjadi gaung dari program pemerintah sangat jauh dari implementasinya, Berdaulat secara politik, akan tetapi peraturan pemerintah seperti halnya UU Minerba, UU Kehutanan justru bertentangan dengan UUD 1945 Pasal 33 yang berbunyi “Bumi, air, udara dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Atas dasar itu, kami Eksekutif Wilayah Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EW-LMND) Jawa Timur menyatakan sikap:

  1. Usut tuntas secara hukum kematian Salim dalam kasus pro-kontra penambangan pasir besi di Desa Selok Awar-awa, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang.
  2. Cabut UU Minerba dan UU Kehutanan yang bertentangan dengan UUD 1945 dan UU Pokok Agraria tahun 1960.
  3. Segera selesaikan konflik kasus agraria/ pertambanagan di Indonesia dengan mengutamakan kepentingan rakyat.
  4. Laksanakan Trisakti dan pasal 33 UUD 1945 sebagai landasannya.

 

EW-LMND Jawa Timur

Naufal Qushai

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*